SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, UNTAIAN SEDERHANA NAMUN SARAT MAKNA
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Mei 2014

Maza, Sumber Inspirasiku !




Maza. Putri pertamaku yang usianya kini menginjak empat tahun enam bulan. Sejak awal kelahirannya, aku banyak belajar tentang bagaimana menjadi ibu yang terbaik untuknya. Maklum, aku hidup merantau, jauh dari orang tua dan saudara. Jadi, segala sesuatu yang aku jalani, masih berupa trial and error. Mencoba-coba dengan guru berupa nasehat dari orang yang lebih berpengalaman, panduan buku-buku dan fasilitas internet. Dan, segalanya memang tidak mudah.

Di awal-awal kelahirannya, aku belajar cara memandikan bayi, mengganti popok, menyusui yang baik, dan segala hal yang memang harus dipelajari oleh seorang ibu muda. Dan, aku menyukai segala proses yang sungguh alamiah, belajar dari kesalahan untuk menjadi lebih baik.

Selasa, 06 Mei 2014

Makar Siapa ?




Hm, begini ceritanya. Siang tadi, ketika saya buka facebook melalui HP, ada sebuah status yang membuat saya cukup bingung memikirkan apa maksud dari status tersebut. Begini isinya :

“ Dengar kabar temanku mau pindah ke kota sebrang. Ya Allah, berikanlah kemudahan jalan padaku agar bisa segera pindah dari kota Solo ini .“

Kalau saya bukan merupakan bagian dari penduduk Solo, mungkin saya tidak akan sepenasaran itu. Tanpa fikir panjang lagi, saya pun membuka komentarnya yang hanya berisi dua buah komentar. Yang pertama, hanya salah seorang temannya yang menanyakan kabarnya, yang kedua, jawaban dari penulis status. 

Rabu, 25 September 2013

Refleksi Pendidikan Buah Hati

Curhat emak-emak, pagi-pagi....

Ya, benar kalau dikatakan bahwa, kebaikan apa pun harus terus diasah agar tetap terjaga motivasinya. Dan, itu terjadi pada diri saya sendiri.

Sepakat tidak, kalau mengajarkan / mendidik anak adalah suatu kebaikan ?

Kalau sepakat, yuk, kita sama-sama introspeksi diri. Sudahkah kita mampu istiqomah, konsisten, dalam memaksimalkan diri dalam mendidik anak-anak kita ?

Tepatnya, si Ibu harus terus belajar dan memotivasi diri untuk menularkan pelajaran (ilmu) yang kita miliki pada anak-anak kita.

Kamis, 14 Februari 2013

Anak Kreatif yang Banyak Akal


Salah satu ciri anak cerdas adalah memiliki kreatifitas yang tinggi. Dalam membangun kreatifitas anak diperlukan kesabaran yang tiada batasnya, karena, kreatifitas bukan hanya bawaan genetik, namun juga berkat stimulasi yang diberikan orang tua. Anak kreatif berarti ia mampu menyelesaikan setiap masalahnya dengan caranya sendiri. Atau, anak bisa melakukan suatu hal atau tindakan yang tidak terduga berdasarkan imajinasi yang ia kembangkan dalam kehidupan nyata.

Mengutip Dr. E. Paul Torrance, professor ilmu pendidikan di Universitas Minnesota, Ia mengatakan bahwa peran orang tua sangat penting dalam menemukan cara untuk meningkatkan kreatifitas anak. Dan, kemampuan ini perlu dirangsang dan diberi pengarahan sejak anak masih bayi.

Beberapa cara yang bisa digunakan dalam menumbuhkan kecerdasan anak demi merangsang kreatifitas anak adalah :

  1. Memberinya ASI (Air Susu Ibu)
  2. Meningkatkan kesehatan dengan makanan bergizi dan beri tambahan vitamin anak

Sabtu, 12 Januari 2013

Gosip Anak, gosip Orang tua



Masalah gosip adalah masalah bersama. Baik itu pergaulan antara individu, juga pergaulan dengan lingkungan dimana pun kita berada. Dan, perlu diketahui, secara langsung atau pun tidak, masalah gosip ini juga termasuk penyakit bawaan dari lingkungan terdekat. Jadi, bila seseorang dididik dengan lingkungan yang tidak terbiasa dengan gosip, maka setelah besar pun, anak akan bisa menghindari problema ini, meski, mungkin tidak sepenuhnya. Jadi, memulai untuk mendidik anak sejak kecil anak  dengan atau tanpa gosip, itu murni pilihan orang tua.

Tulisan ini sendiri juga bukan berniat untuk mengajak siapa pun bergosip, ya. Tidak ingin menceritakan siapa pun. Justru saya hanya ingin berbagi perihal gosip menggosip ini. Apa yang saya deskripsikan, dan bagaimana logat saya bercerita  pada buah hati saya, asli, itu turunan juga dari saya. Ngaku itu tidak mudah, kawan, dan ini akan menjadi introspeksi buat diri saya sendiri.

Jumat, 04 Januari 2013

Cake Gagal Total !!!



Episode Bikin Kue

Satu hal yang paling saya sukai, yaitu ngemil, apapun, asal enak menurut ukuran lidah, pasti saya santap, tak bersisa. Walaupun hobi ngemil, alhamdulillah berat tubuh saya tidak melebihi batas ideal menurut perhitungan medis. Susahnya, ketika saya sudah berumah tangga, hobi ngemil menjadi terbatas, hehe. Bagaimana tidak, dengan anggaran keuangan untuk makan yang telah disepakati bersama, mengharuskan saya berfikir cermat, bagaimana cara melampiaskan kesukaan ngemil, tanpa membuat anggaran lain ikut tersedot. 

Akhirnya, salah satu solusinya, saya mencoba untuk membuat kue sendiri di rumah, lebih hemat dan sehat. Semakin lama, saya semakin ketagihan nge-baking. Rupanya kegemaran baking-bakingan itu memberikan semangat tersendiri ke Maza yang saat itu berusia sekitar dua tahunan. Ia begitu antusias jika saya sudah memberi lampu merah, “Bunda mau bikin kue loh!” 
Bisa dipastikan ia langsung meninggalkan permainan yang sedang dilakukannya, dan tak jarang, ia malah promosi keteman-temannya “ Eh, eh, bunda ku mau bikin kue ! ayo kerumahku !” begitu biasanya sikap Maza. 

Kamis, 03 Januari 2013

MITOS ? ? ?



Seorang ibu berbisik pada ibu disebelahnya.
 “Itu kan seharusnya nggak boleh ya? Jemur pakaian bayi malam-malam!”

Saya senyum-senyum sendiri mendengarnya, ditambah lagi kalimat, 

“ Kata orang jawa..bla..bla..bla…”


Sebegitu ketatnya kah peraturan orang jawa itu ? Atau hanya sekedar mitos belaka ? Ah, saya sebenarnya paling malas ngeladenin kalimat seperti itu, disamping saya bukan penganut mitos - mitos jawa, saya juga punya keyakinan, bahwa hal-hal seperti itu (menjemur pakaian bayi malam-malam) tidak bertentangan dengan syariat islam.

Bukan sekali dua kali saya dengar tentang hal-hal seperti itu, tapi kerap kali, sejak hijrah ke kota batik ini. Dulu, ketika hamil, banyak sekali pantangan yang justru datang dari lingkungan sekitar tempat saya tinggal, bukan dari mertua, apalagi suami.

Pernah ketika lagi bantu-bantu masak untuk acara hajatan tetangga, di sini disebutnya ‘rewang’, saya melihat ujung jari saya agak sedikit kotor terkena bumbu. Karena tidak ada lap, dan merasa kotorannya sedikit, jadilah saya lap tangan kotor itu di baju, eh ada yang lihat, langsung dibilang, “jangan di lap di baju mba, ora apik, kata orang jawa, nanti anaknya belang-belang loh…!” 

Rabu, 12 Desember 2012

Sahabat

Banyak hal yang saya lalui selama perjalanan usia ini. Saya mengenal banyak sekali orang baru, karakter yang unik dari mereka, baik di dunia nyata atau pun dunia maya. Tidak sedikit juga, yang awalnya berkenalan di dunia nyata, lalu tali silaturahim saya dan mereka berlanjut di dunia maya.

Senin, 10 Desember 2012

Sekolah Pertama Maza


11 july 2011

Alhamdulillah, tanpa terasa aku sudah mengantarkan putri pertamaku, Maza, ke bangku Playgroup. Jiah, serius banget ya, kaya sudah nenek-nenek aja, mengantarkan ke bangku… hehe…

Jujur, aku dan suami mungkin masih bisa dibilang takjub, masih membayangkan, sepertinya baru kemarin aku melahirkan bidadari cantik itu. Baru kemarin sore, kok tahu-tahu, anakku sekarang sudah berusia 3 tahun, sudah sekolah pula.

Bahagianya Maza saat berangkat sekolah mungkin melebihi kebahagiaanku dulu saat memasuki halaman sekolah yang asri. Dulu, yang mengantarku adalah ibu dan pembantu rumah tangga. Setelah kewajiban mengantarnya selesai, ibu beangkat ke kantor. Dan aku ditunggu oleh ‘pembantu’ ibuku. Kalau Maza, jelas-jelas aku yang mengantar, menunggunya, bahkan menemaninya selama masa adaptasi di sekolah barunya.

Ya, Maza begitu bahagia, riang gembira, padahal aku tahu, ia terlihat sedikit mengantuk. Coba, hari ahad kemarin, sebelum ia mulai masuk, ia baru bisa tidur pukul 10.30 malam, dan bangunnya sekitar jam empat pagi. Ketika itu sedang ada pemadaman listrik dari PLN, mungkin karena tidak terbiasa gelap dengan sebenar-benarnya gelap, ia akhirnya bisa terjaga dari tidur nyenyaknya yang baru 6 jam-an.

What’s ? 6 jam bukanlah waktu yang cukup untuk Maza. Ia kubiasakan tidur dimalam hari minimal 9 jam, karena aku begitu merasakan aktifitasnya yang padat ( beuh, kaya pejabat saja ya nduk ? hehe…).

 Bukan itu masalahnya, Maza itu adalah anak yang sangat aktif, lincah, cenderung tidak bisa diam. Aku mengambil patokan 9 jam, karena ia memang istirahat sebenar-benarnya ya pas tidur itu, jadi rasanya kasihan kalau waktu tidurnya pun terganggu. Menjelang tidur pun, ia bukan tipe anak yang gampang merem. Butuh waktu minimal 30 menit hingga membuatnya terpejam, selalu saja ada alasan untuk mencari teman main.
Nah, karena waktu tidur yang kurang ini, di sekolah tadi pagi, walaupun senang, tetap saja terlihat kalau ia mengantuk. Mungkin gurunya tidak begitu paham, wong matanya dia itu bulat, jadi walaupun ngantuk, tetap saja tuh mata terlihat bulat, yang tahu ngantuk atau nggaknya, ya aku, yang hafal betul kebiasaannya tidur larut malam.

Aku amati bagaimana tadi ia menyesuaikan diri disekolah, bersama teman dan guru-gurunya. Alhamdulillah, ia tipe anak yang mudah beradaptasi, bahkan cepat sekali. Dalam hitungan belum sampai 1 jam, ia sudah mendapatkan teman bermain, bahkan sudah mengenal namanya, acung jempol buat Maza !

Satu hal, ia cenderung pemalu, walau sebenarnya ia bisa menjawab pertanyaan guru, tapi ia menjawab dengan suara yang lembut, halus. Ia juga anak yang fokus pada apa yang sedang ada dihadapannya. Biasanya ia akan mengamati dulu orang atau tontonan yang disuguhkan padanya. Ia diam, mengamati dengan seksama, terkadang tanpa ekspresi atau sekedar senyum-senyum malu. Tapi ternyata setelah ku-review di rumah, subhanallah, ternyata ia banyak mengingat apa yang ibu guru  katakan dan ajarkan disekolah.

Maza, entah mengapa, bunda selalu bangga padamu, dan ketika bunda katakan ini, bergelayut mimpi yang begitu besar padamu, bukan untuk membebanimu sayang, tapi untuk menjadikanmu generasi berkualitas yang bermanfaat untuk umat.

Esoknya, masih aku saksikan anak-anak riuh berlarian kesana kemari, tertawa, bercanda, bahkan menangis, takut berpisah pada orangtua, takut bergabung dengan teman-teman lain. Dan kamu Maza, dengan santainya kamu langsung membaurkan diri dengan teman yang lain, kau tatap guru pembimbing dengan tatapan seorang pembelajar, dan kau pun menyerap aktifitas belajar sambil bermain itu dengan sempurna.

Ah, rasanya seperti mimpi melihat dirimu ditatap kagum oleh orangtua lain yang mungkin mereka berfikir “kok anak ini bisa ya ?”
Ya, untuk anak seusia mu, kau seperti putri yang begitu menarik, kau supel, semangat, berani dan cerdas. Aku lihat, ketika ibu guru tadi menyanyikan lagu-lagu baru, kau coba mengikutinya, matamu menatap tajam kearah suara ibu guru, dan mulutmu pun seperti komat kamit menirukan. Bukan bunda membandingkan dirimu dengan yang lain, tapi, inilah yang bunda rasakan, bunda merasa menjadi ibu yang paling beruntung sedunia. Walau dulu bunda berkali mengeluh tentang dirimu yang sulit makan, susah tidur, tapi masih banyak sisi positif lain yang ada di diri mu.

Mengantuk bukan halangan membuatmu untuk tetap belajar, kau tahan kantukmu, sementara teman-teman yang lain menguap, bengong, tapi matamu tetap teguh mengambil hikmah dari semua pelajaran.

Ya Allah, mudahkan anakku menjadi seorang pembelajar sejati, mudahkan lah cahaya ilmu merasuki hati dan fikirannya, agar ia tetap bersemangat dalam kondisi apapun, sehingga, kelak, ia dapat membagi ilmu yang dimilikinya pada orang lain, aamiin…

Doa bunda selalu menyertai mu sayang…!

Mazaaya Huurin Dzakiyya, bidadari kebanggaanku, semoga langkah-langkah kecilku dan suami dalam mendidikmu, kelak bisa menjadi syafaat untuk memasuki istana di surga, aamiin….


Insiden Marah



Hm, mendisiplinkan anak memang bukanlah hal yang mudah, apalagi bila itu menyangkut nama baik kita di depan mata masyarakat.

Misalnya, ketika proses dispilin itu sedang terjadi manakala beberapa pasang mata menguntit kita untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi antara kita dan anak kita. Seperti halnya yang terjadi padaku kemarin sore. Kesal bin bete, itu yang aku  rasakan. 

Ceritanya, aku sudah mengatur jadwal untuk mengikuti anak bermain di luar. Maza bangun tidur, main-main sebentar bersamaku dilanjutkan dengan mandi dan makan sore, masih berkutat di dalam rumah. Janjiku, ketika nanti makan selesai, Maza boleh main dulu di luar, sementara aku mandi. Aku minta agar Maza tidak memanggil-manggil aku, untuk minta ini dan itu. Ia pun menyanggupi. Jujur aja, aku hafal betul kebiasaan dia.

 Sore hari, banyak sekali tukang jualan hilir mudik depan rumahku. Tidak satu atau dua tukang jualan, bisa lebih dari 4 jenis, yang tukang bubur ayam, jus alpukat, bakso, siomay, belum lagi kalau tukang service jeans dan rosok-rosok lewat, tambah banyak kan ? (kalau yang dua dari belakang nggak mungkin Maza manggil sih, hehe). 

Mungkin memang awalny ia tidak tertarik membeli satu atau dua dari sekian tukang jualan yang lewat. Tapi, teman-temannya lah yang mendidiknya untuk ikut serta meramaikan tukang jualan yang menggoda dengan irama khasnya memanggil pembeli, utamanya anak-anak. Ada yang pakai ting-tingan, dong-dong-an, pakai musik plus lagu, juga sekedar senyum menyapa anak-anak yang biasanya berkumpul di sore hari untuk bermain. 

Nah itu yang membuatku termotivasi untuk memberi warning sama Maza agar tidak memanggil-manggil aku. Selain mengganggu kekhusukan mandi, juga karena aku tahu kalau ia sudah terlalu kenyang makan nasi yang aku ambilkan lebih dari porsi biasanya. Ia menyanggupi permintaan ku, kubukakan pintunya, mempersilahkan ia main dengan rekan-rekan balitanya. Aku bisa leluasa membersihkan badan dengan jebar-jebur. 

Sekitar 5 menit, walau dengan kucuran air yang deras, sayup-ssayup aku dengar suara orang memanggil, “Bunda…!”, aku sih cuek saja, pintu depan sudah kututup kok. 

Eh, nggak lama, tahu-tahu, ada yang mengetuk pintu kamar mandi, “Bunda, bunda !” kata suara diluar. 

Hm , ini nih, sudah ada sinyal kuat, kalau dia pasti pengen sesuatu, tapi kok dia bisa buka pintu luar ya ? fikirku bingung. Aku buka pintu kamar mandi. Tanpa aku tanya pun, ia sudah bilang “aku mau bubur ayam, Bunda!” katanya polos. 

Ih, kenapa dia nggak ingat janjinya tadi sebelum ia main ya ?! 
Aku jawab “Nggak, Maza sudah kenyang. Main lagi aja sana, Bunda belum selesai, belum sholat juga.”

 Dia pergi sambil tetap merengek pingin bubur ayam. Hm, ternyata dia mengambil mangkuk sendiri di lemari dapur. Ia kembali mengetuk pintu kamar mandi dan menunjukkan padaku bahwa ia telah berhasil ambil mangkuk. 

Ggrrhh, kali kedua ia menganggu mandiku, padahal saat itu adalah jadwal dimana aku harus memulai sholat lagi, setelah bersuci dari tamu bulanan,  jadi butuh waktu lebih lama dari biasanya. 

Aku longokkan kepala lagi “Maza dengar nggak, Bunda bilang nggak ya nggak, Maza sudah kenyang, nanti muntah….!” Sambil bicara sedikit kesal kututup lagi pintu kamar mandi. 

Maza mulai menangis, yang tadinya merengek pelan mulai semakin keras, aku bergegas menyelesaikan urusanku dikamar mandi. Aku keluar, ia kembali menyambangi aku, sambil membawa mangkuk untuk meminta sejumlah uang untuk dibayarkan ada tukang bubur tersebut. Dan, sialnya, itu tukang bubur malah ngetem lagi didepan rumah, ada beberapa anak-anak yang membeli, seakan semakin menggoda anakku untuk membelinya juga. Aku tetap bersikeras untuk tidak menuruti permintaannya. Aku tahan tangan dan hati ku untuk tidak mengabulkan permintaannya. Tangisnya semakin menjadi, seperti orang habis digebukin kali. 

Aku kasih pilihan padanya “Maza mau main atau mau makan bubur ? Kalau mau bubur, Maza nggak usah main. Kalau mau main nggak usah beli bubur. Gimana ?! "
" Maza tadi sudah kenyang, suapan terakhir tadi dimuntahin, bilang sudah kenyang.” kataku lagi.

Ia meronta-ronta dibalik pintu depan, sedang aku, karena belum mengenakan jilbab, hanya berada di balik pintu. Kesal juga sebenarnya sama tuh tukang bubur, kenapa nggak pergi-pergi, malah nunggu diluar, padahal aku sudah bilang, “nggak beli, Pak!” 

Entah karena masih ada yang beli, atau karena memang menunggu anakku. Mau ngintip jendela juga susah, karena tuh jendela, harus melewati pintu yang tengah dibuka Maza. 

Dengan emosi yang tertahan, aku bilang “Sini mangkuknya, Maza main lagi !” Ia tetap bersikeras ingin membeli. Ia jatuhkan badannya dilantai, juga mangkuknya, menendang-nendang kakinya, menangis sekeras-kerasnya, tau deh, satu RT denger kali. 

Malu ? pastinya! Kesannya kok bubur cuma dua ribu perak saja pelit banget...
Bukan apa-apa, selain dia sudah kenyang, aku pun tidak mau membiasakannya ikut-ikutan temannya untuk membeli ini, itu, karena perilaku seperti itu, bisa semakin menggila bila usianya semakin bertambah kalau tidak dilatih sejak kecil. 

Jadi, aku harus mulai untuk tegas, pada hal-hal yang memang harus diatur, seperti jajan orang lewat. Bolehlah kalau memang ia belum makan, atau ketika makanan di rumah sudah habis. Walaupun ia menangis sekecang-kencangnya dengan sangat menyayat, apa boleh buat, dengan tega hati dan rasa teriris-iris mendengar rintihannya, aku harus bisa menolak! Sambil tetap menangis, mangkuk itu diberikan padaku, tinggal Maza yang  harus masuk.

Gimana ya caranya ? mana aku nguber sholat segala, fikirku. Pukul empat lewat lima belas menit, keburu kesorean kalau begini. Kuambil jalan pintas.

“Maza, ayo masuk, bunda hitung ya, kalau nggak bunda tutup pintu nya ! Satu !” belum ada respon, malah makin keras tangisnya. 

“Dua !” kuseru lagi ia bak tentara yang sedang dikejar tugas. 

Mau hitungan ketiga, ia mulai beranjak masuk, dengan tangisan yang masih membuat hati teriris. Maza masuk, pintu pun segera kututup. Terserah kalau mau  nangis mah, yang penting sudah masuk.

Aku sempat bilang “Maza ko nggak nurut bunda, ya ? Tadi sebelum main janjinya apa ? Maza kan sudah kenyang ! bla, bla, bla” aku tinggalkan untuk segera sholat. 
15 menit terlewati untuk membujuknya masuk. Tau nggak ? sholatku nggak khusuk, karena ia masih menangis di jendela menghadap keluar, sambil mengucapkan satu kata sandinya ketika sedang bermasalah denganku, “Ayah…….!”. 

Aku selesai sholat pun belum juga berakhir tangisnya. Kupanggil ia, masih dalam kondisi terisak, aku cari cara buat menenangkannya. Aku juga paham karakater Maza. Kalau kita mencoba untuk longgar sedikit, tangisnya akan semakin menjadi.

 Jadi, aku kasih kata ajaib yang bisa membuatnya segera terdiam “Maza mau disayang bunda nggak ?”tanyaku. 

Dia mengangguk sambil terus menangis. “Kalau mau, diem ! berhenti nagisnya. Kalau nggak berhenti, bunda  nggak sayang sama Maza”. 

Sekali, belum ada respon, sampai perkataan kedua, baru ia mulai memberhentikan tangisnya, meski masih sesunggukan. Ketika sesunggukan, aku jelaskan tentang peristiwa kenapa aku tidak membolehkannya beli bubur sekaligus kesalahannya karena tidak menuruti apa yang aku katakan. Aku diamkan ia  beberapa saat, sebagai bukti bahwa ia berada dalam posisi salah, dan aku tidak menyukai apa yang dilakukannya. 

10 menit, setelah tangisnya reda, ia mulai menyolek-nyolek aku dan ikut rebahan disampingku hanya saja menghadap arah yang berlawanan denganku. Jual mahal dikit boleh dong ? hehe. 

Colekan keduanya, sambil menelungkupkn badannya diatas pinggangku, aku tepis dengan tanganku, sambil bilang “Maza belum minta maaf kok kalau salah, bunda nggak sayang kalau Maza kaya gitu”. 

Ia pasang muka innocent, wes, itu tuh senjatanya. Aku balikan badan lagi. Kembali ia menelungkupkan badannya, kali ini di kakiku. 

“Ayo, maza mau minta maaf nggak kalau salah ? “ kataku lagi. Ia pun memberikan tangan kanannya pada ku untuk bersalaman. Aku juga menyambutnya dengan tangan kananku. 

Ketika episode bersalaman itu, aku tanya, “Maza minta maaaf untuk apa ?”. 

“Aku nggak nurut bunda !”katanya sambil menahan senyum.

 “Terus ?” kataku lagi.

 “Aku udah kenyang, nggak usah beli bubur “ jawabnya lagi dengan gaya manja. 

Aku memberikan tangan untuk dicium olehnya, dan aku pun juga meminta maaf padanya, sambil menciumi seluruh wajahnya. Ia pun  membalas menciumiku. Huf, selasai sudah perkara sama Maza. Walau malu sama tetangga, tapi apa dikata. Disiplin harus tetap ditegakkan, walau berat perjuangannya. Selain menaklukan Maza yang memang agak keras kemauannya, juga menahan malu pada tetangga karena tangisan Maza yang cukup membahana.

 Ya Rabb. Semoga Kau mudahkan aku dama mendidik anakku, aamiin.

Minggu, 08 Januari 2012

Renungan Pagi Atas Sebuah Status


Bismillah
Ini bukan pertama kalinya aku kecewa pada sosok yang mengganggap dirinya ideal. Dua kali, tiga kali, bahkan lebih. Kecewa pada sikapnya yang merasa bahwa penilaiannya itu selalu benar. Penilaian tanpa sebuah kompromi dan pengenalan lebih dalam. Mungkin, hanya sekedar bahasa halus yang kerap terucap dari lisannya, atau terkadang berupa sedikit rangkaian kata yang terlihat dengan sangat jelas, apa yang akan disampaikan dan untuk siapa ia menyampaikannya. Yang menjadi sebuah permasalahan, bukan isinya, bukan juga cara menyampaikannya, namun ada sisi lain yang kerapkali mengiringi pesan tersebut. Hal itulah yang seringkali membuat aku kecewa, bahkan sampai berkali lipat. Satu sisi yang membuat saya gemas. Apa sih ? Yup ! Narsis, jadi yang ditarik lebih jauh dikit jadi sombong. Selalu itu yang seringkali terbaca dari setiap ucapan, ekspresi wajah, juga kalimat-kalimat yang ditulisnya. Seakan-akan segala hal yang ia perbuat, ia fikirkan dan ia yakini adalah suatu hal yang benar. Menyalahkan sikap oranglain, membenarkan sikapnya. 

Jujur, aku gemas sekali, ingin membalas. Tapi, aku juga tidak sampai hati memberikan sebuah pernyataan eksplisit atas sikapnya itu. Aku bukan hakim, aku juga bukan paranormal yang bisa tahu isi hatinya, dan memberinya pelajaran. Dan aku pun tidak ingin menghabiskan energi ku hanya untuk membalas perlakuannya dengan perlakuan serupa, minimal menegurnya. Bukan, bukan aku takut padanya. Aku hanya berusaha menjaga tali silaturahim, menjaga hati ku juga agar tidak semakin memanas dengan ketidakcocokan antara sikapnya dan fikirannya, menjaga hatinya juga agar tidak makin sombong dengan kepekaanku atas statusnya.
That’s real ! Standar setiap orang itu berbeda, sebagaimana perbedaan kapasitas ilmu yang dimilikinya. Semakin ia memahami bagaimana cara untuk memecahkan masalah dengan apik pada setiap orang atau hal yang sedang bermasalah dengannya, maka akan semakin indah hubungan yang akan terus terjalin, dengan tidak saling menyakiti, terutama hati. Kasihan sebenarnya pada tipikal manusia seperti itu, ia tidak bisa melepaskan gundahnya dengan baik, ia hanya bisa memendam kecewa dengan bersikap mengalah, namun, mengalahnya itu bukan untuk sebuah penyelesaian, hanya untuk menutupi ketidakmampuan dirinya untuk bernegosiasi dan berkomunikasi dengan pihak lain. Kalau sudah seperti itu, biasanya, ia akan membenarkan keyakinan dirinya itu, bahwa ia ada dalam posisi yang benarI, mengalah untuk menang, it’s too stupid for me. Hm, bukanlah suatu kesalahan dengan bersikap mengalah. Bukan pula itu adalah suatu pembenaran untuk menghentikan pertikaian sesaat, namun akan tercipta masalah baru dilain waktu.
Copas dari salah satu status orang tidak dikenal dif b, pas banget dengan tulisan ku ini. "Belajar menerima kesalahan orang lain, adalah satu kunci yg sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yg sehat, bertumbuh & abadi. Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikn masalah yg ada, jd selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti punya alasannya sendiri. Janganlah kita menjadi orang yang egois hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengerti. Tua itu pasti, tapi Dewasa itu PILIHAN.”
Doa ini bagus untuk kembali menghadirkan hatiku agar bisa tetap tenang, dan santai dalam menghadapi segala hal yang tidak aku harapkan.
“Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas, aku berlindung kepada-Mu daripada sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu daripada tekanan hutang dan kezaliman manusia.” (HR Abu Dawud 4/353)