Curhat emak-emak, pagi-pagi....
Ya, benar kalau dikatakan bahwa, kebaikan apa pun harus terus diasah agar tetap terjaga motivasinya. Dan, itu terjadi pada diri saya sendiri.
Sepakat tidak, kalau mengajarkan / mendidik anak adalah suatu kebaikan ?
Kalau sepakat, yuk, kita sama-sama introspeksi diri. Sudahkah kita mampu istiqomah, konsisten, dalam memaksimalkan diri dalam mendidik anak-anak kita ?
Tepatnya, si Ibu harus terus belajar dan memotivasi diri untuk menularkan pelajaran (ilmu) yang kita miliki pada anak-anak kita.
Tampilkan postingan dengan label Celoteh Maza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh Maza. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 September 2013
Kamis, 14 Februari 2013
Anak Kreatif yang Banyak Akal
Salah satu ciri anak cerdas adalah memiliki kreatifitas yang tinggi. Dalam membangun kreatifitas anak diperlukan kesabaran yang tiada batasnya, karena, kreatifitas bukan hanya
bawaan genetik, namun juga berkat stimulasi yang diberikan orang tua. Anak kreatif berarti ia mampu menyelesaikan setiap masalahnya dengan caranya
sendiri. Atau, anak bisa melakukan suatu hal atau tindakan yang tidak terduga
berdasarkan imajinasi yang ia kembangkan dalam kehidupan nyata.
Mengutip Dr. E.
Paul Torrance, professor ilmu pendidikan di Universitas Minnesota, Ia
mengatakan bahwa peran orang tua sangat penting dalam menemukan cara untuk
meningkatkan kreatifitas anak. Dan, kemampuan ini perlu dirangsang dan diberi
pengarahan sejak anak masih bayi.
Beberapa cara yang bisa digunakan dalam menumbuhkan kecerdasan anak demi merangsang kreatifitas anak adalah :
- Memberinya ASI (Air Susu Ibu)
- Meningkatkan kesehatan dengan makanan bergizi dan beri tambahan vitamin anak
Senin, 28 Januari 2013
Seri Anak Cerdas : Ikut Ayah Atau Bunda ?
Tidak bisa dipungkiri bahwa kedekatan emosional seorang ibu
dan anaknya sudah terbangun sejak ia (anaknya) masih berada di dalam kandungan.
Walau, di luar ikatan itu masih ada ikatan lain yang juga sudah terbangun sejak
ia lahir ke dunia, yaitu ikatan dengan ayahnya.
Sekuat-kuatnya ikatan dengan ayah, tetap lah ikatan ibu jauh
lebih mendalam jika dalam proses kehidupan anak melalui fase yang ideal, yaitu
fase di dalam kandungan (pasti)
dan
menyusui. Ikatan dengan ayah ibarat pisau yang setiap hari harus di asah
demi
menajamkan setiap sisinya. Sedang dengan ibu, sudah terbangun sejak
pisau
tersebut mulai dibuat, melalui proses pembakaran, pembentukan dan
akhirnya
menjadi sebuah pisau. Tanpa perlu di asah pun, pisau tetap lah pisau,
karena
melalui sebuah proses yang menjadikan dia pisau. Kedekatan itu lah yang
akan memengaruhi tumbuh kembang anak, salah satunya menjadikan ia anak cerdas, yang tentunya kelak akan menjadi kebanggaan orang tua.
Sabtu, 12 Januari 2013
Gosip Anak, gosip Orang tua
Masalah gosip adalah masalah bersama. Baik itu pergaulan
antara individu, juga pergaulan dengan lingkungan dimana pun kita berada. Dan,
perlu diketahui, secara langsung atau pun tidak, masalah gosip ini juga
termasuk penyakit bawaan dari lingkungan terdekat. Jadi, bila seseorang dididik dengan lingkungan yang tidak terbiasa dengan gosip, maka setelah besar
pun, anak akan bisa menghindari problema ini, meski, mungkin tidak sepenuhnya.
Jadi, memulai untuk mendidik anak sejak kecil anak dengan atau tanpa gosip, itu murni pilihan
orang tua.
Tulisan ini sendiri juga bukan berniat untuk mengajak siapa
pun bergosip, ya. Tidak ingin menceritakan siapa pun. Justru saya hanya ingin
berbagi perihal gosip menggosip ini. Apa yang saya deskripsikan, dan bagaimana
logat saya bercerita pada buah hati
saya, asli, itu turunan juga dari saya. Ngaku itu tidak mudah, kawan, dan ini
akan menjadi introspeksi buat diri saya sendiri.
Jumat, 04 Januari 2013
Cake Gagal Total !!!
Episode Bikin Kue
Satu hal yang paling saya sukai,
yaitu ngemil, apapun, asal enak
menurut ukuran lidah, pasti saya santap, tak bersisa. Walaupun
hobi ngemil, alhamdulillah berat
tubuh saya tidak melebihi batas ideal menurut perhitungan medis. Susahnya, ketika saya sudah berumah tangga, hobi ngemil menjadi terbatas, hehe. Bagaimana
tidak, dengan anggaran keuangan untuk makan yang telah disepakati bersama,
mengharuskan saya berfikir cermat, bagaimana cara melampiaskan kesukaan ngemil, tanpa membuat anggaran lain ikut tersedot.
Akhirnya, salah satu solusinya, saya mencoba untuk membuat kue sendiri di rumah, lebih hemat dan sehat. Semakin
lama, saya semakin ketagihan nge-baking. Rupanya kegemaran baking-bakingan
itu memberikan semangat tersendiri ke Maza yang saat itu berusia sekitar dua
tahunan. Ia begitu antusias jika saya sudah memberi lampu merah, “Bunda mau bikin
kue loh!”
Bisa dipastikan ia langsung meninggalkan permainan yang sedang
dilakukannya, dan tak jarang, ia malah promosi keteman-temannya “ Eh, eh, bunda
ku mau bikin kue ! ayo kerumahku !” begitu biasanya sikap Maza.
Jumat, 09 Desember 2011
Bunda, Bukan Mama !
Kejadian lucu di sore hari, tepatnya 3 hari yang lalu, rabu, tanggal 7 desember 2011.
Ketika itu tukang koran langganan ku datang untuk mengantarkan majalah U*** edisi bulan desember. Maza yang lumayan sudah kenal dengan pak tukang koran, bisa dengan luwesnya ngobrol.Kebetulan tukang koran itu juga humoris dan penyuka anak-anak.
Tahu-tahu Maza bilang gini " Pakde, Ayah dan bunda ku nikah loh !"
Tukang koran ; " Oh ya ? Nikah sama Pakde koran ya ?"
Maza : " Bukan, nikah sama Ayah !"
Tukang Koran : " O...sama Ayah. Adik kecil manggil ibunya siapa ? Mama ya? "(sambil menunjuk ke arah ku)
Maza : " Bukan, Bunda !"
Itu percakapan singkatnya. Setelah tukang koran itu pulang, ternyata Maza protes pada ku.
Ketika itu tukang koran langganan ku datang untuk mengantarkan majalah U*** edisi bulan desember. Maza yang lumayan sudah kenal dengan pak tukang koran, bisa dengan luwesnya ngobrol.Kebetulan tukang koran itu juga humoris dan penyuka anak-anak.
Tahu-tahu Maza bilang gini " Pakde, Ayah dan bunda ku nikah loh !"
Tukang koran ; " Oh ya ? Nikah sama Pakde koran ya ?"
Maza : " Bukan, nikah sama Ayah !"
Tukang Koran : " O...sama Ayah. Adik kecil manggil ibunya siapa ? Mama ya? "(sambil menunjuk ke arah ku)
Maza : " Bukan, Bunda !"
Itu percakapan singkatnya. Setelah tukang koran itu pulang, ternyata Maza protes pada ku.
Maza : “Aku nggak mau kok manggil Mama, jelek ! Aku maunya Bunda le…” sambil memonyongkan bibir dan rada judes.
Bunda : “ Emang jelek kenapa Za ?”
Maza : “ Itu loh, si A (nama temannya) manggil Mama, jelek. Soalnya Mama itu nggak pakai jilbab…”
Bunda : “ Lah, emang, kalo Bunda, kenapa ?”
Maza : “ Kalo Bunda itu cantik, soalnya pakai jilbab…”
Bunda : “ Hm… kalo Ummi ?”
Maza : “ Ummi cantik juga, soalnya pakai jilbab…”
Bunda : Tuing…tuing…! Bunda melayang-layang sambil tepok jidat. Ngambil kesimpulan sendiri dia, wkwkwk….:D
Langganan:
Postingan (Atom)
