Curhat emak-emak, pagi-pagi....
Ya, benar kalau dikatakan bahwa, kebaikan apa pun harus terus diasah agar tetap terjaga motivasinya. Dan, itu terjadi pada diri saya sendiri.
Sepakat tidak, kalau mengajarkan / mendidik anak adalah suatu kebaikan ?
Kalau sepakat, yuk, kita sama-sama introspeksi diri. Sudahkah kita mampu istiqomah, konsisten, dalam memaksimalkan diri dalam mendidik anak-anak kita ?
Tepatnya, si Ibu harus terus belajar dan memotivasi diri untuk menularkan pelajaran (ilmu) yang kita miliki pada anak-anak kita.
Tampilkan postingan dengan label Hikmah anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah anak. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 September 2013
Senin, 28 Januari 2013
Seri Anak Cerdas : Ikut Ayah Atau Bunda ?
Tidak bisa dipungkiri bahwa kedekatan emosional seorang ibu
dan anaknya sudah terbangun sejak ia (anaknya) masih berada di dalam kandungan.
Walau, di luar ikatan itu masih ada ikatan lain yang juga sudah terbangun sejak
ia lahir ke dunia, yaitu ikatan dengan ayahnya.
Sekuat-kuatnya ikatan dengan ayah, tetap lah ikatan ibu jauh
lebih mendalam jika dalam proses kehidupan anak melalui fase yang ideal, yaitu
fase di dalam kandungan (pasti)
dan
menyusui. Ikatan dengan ayah ibarat pisau yang setiap hari harus di asah
demi
menajamkan setiap sisinya. Sedang dengan ibu, sudah terbangun sejak
pisau
tersebut mulai dibuat, melalui proses pembakaran, pembentukan dan
akhirnya
menjadi sebuah pisau. Tanpa perlu di asah pun, pisau tetap lah pisau,
karena
melalui sebuah proses yang menjadikan dia pisau. Kedekatan itu lah yang
akan memengaruhi tumbuh kembang anak, salah satunya menjadikan ia anak cerdas, yang tentunya kelak akan menjadi kebanggaan orang tua.
Senin, 10 Desember 2012
Sekolah Pertama Maza
11 july 2011
Alhamdulillah,
tanpa terasa aku sudah mengantarkan putri pertamaku, Maza, ke bangku Playgroup. Jiah, serius banget ya, kaya sudah nenek-nenek aja, mengantarkan ke bangku… hehe…
Jujur, aku dan suami mungkin masih bisa dibilang takjub, masih membayangkan, sepertinya
baru kemarin aku melahirkan bidadari cantik itu. Baru kemarin sore, kok
tahu-tahu, anakku sekarang sudah berusia 3 tahun, sudah sekolah pula.
Bahagianya Maza saat
berangkat sekolah mungkin melebihi kebahagiaanku dulu saat memasuki halaman
sekolah yang asri. Dulu, yang mengantarku adalah ibu dan pembantu rumah tangga.
Setelah kewajiban mengantarnya selesai, ibu beangkat ke kantor. Dan aku
ditunggu oleh ‘pembantu’ ibuku. Kalau Maza, jelas-jelas aku yang mengantar,
menunggunya, bahkan menemaninya selama masa adaptasi di sekolah barunya.
Ya, Maza begitu
bahagia, riang gembira, padahal aku tahu, ia terlihat sedikit mengantuk. Coba,
hari ahad kemarin, sebelum ia mulai masuk, ia baru bisa tidur pukul 10.30 malam,
dan bangunnya sekitar jam empat pagi. Ketika itu sedang ada pemadaman listrik
dari PLN, mungkin karena tidak terbiasa gelap dengan sebenar-benarnya gelap, ia
akhirnya bisa terjaga dari tidur nyenyaknya yang baru 6 jam-an.
What’s ? 6 jam
bukanlah waktu yang cukup untuk Maza. Ia kubiasakan tidur dimalam hari minimal
9 jam, karena aku begitu merasakan aktifitasnya yang padat ( beuh, kaya pejabat
saja ya nduk ? hehe…).
Bukan itu masalahnya, Maza itu adalah anak
yang sangat aktif, lincah, cenderung tidak bisa diam. Aku mengambil patokan 9
jam, karena ia memang istirahat sebenar-benarnya ya pas tidur itu, jadi rasanya
kasihan kalau waktu tidurnya pun terganggu. Menjelang tidur pun, ia bukan tipe
anak yang gampang merem. Butuh waktu minimal 30 menit hingga membuatnya
terpejam, selalu saja ada alasan untuk mencari teman main.
Nah, karena
waktu tidur yang kurang ini, di sekolah tadi pagi, walaupun senang, tetap saja
terlihat kalau ia mengantuk. Mungkin gurunya tidak begitu paham, wong matanya
dia itu bulat, jadi walaupun ngantuk, tetap saja tuh mata terlihat bulat, yang
tahu ngantuk atau nggaknya, ya aku, yang hafal betul kebiasaannya tidur larut
malam.
Aku amati
bagaimana tadi ia menyesuaikan diri disekolah, bersama teman dan guru-gurunya.
Alhamdulillah, ia tipe anak yang mudah beradaptasi, bahkan cepat sekali. Dalam
hitungan belum sampai 1 jam, ia sudah mendapatkan teman bermain, bahkan sudah
mengenal namanya, acung jempol buat Maza !
Satu hal, ia
cenderung pemalu, walau sebenarnya ia bisa menjawab pertanyaan guru, tapi ia
menjawab dengan suara yang lembut, halus. Ia juga anak yang fokus pada apa yang
sedang ada dihadapannya. Biasanya ia akan mengamati dulu orang atau tontonan
yang disuguhkan padanya. Ia diam, mengamati dengan seksama, terkadang tanpa
ekspresi atau sekedar senyum-senyum malu. Tapi ternyata setelah ku-review di rumah, subhanallah, ternyata
ia banyak mengingat apa yang ibu guru
katakan dan ajarkan disekolah.
Maza, entah mengapa,
bunda selalu bangga padamu, dan ketika bunda katakan ini, bergelayut mimpi yang
begitu besar padamu, bukan untuk membebanimu sayang, tapi untuk menjadikanmu
generasi berkualitas yang bermanfaat untuk umat.
Esoknya, masih aku
saksikan anak-anak riuh berlarian kesana kemari, tertawa, bercanda, bahkan
menangis, takut berpisah pada orangtua, takut bergabung dengan teman-teman
lain. Dan kamu Maza, dengan santainya kamu langsung membaurkan diri dengan
teman yang lain, kau tatap guru pembimbing dengan tatapan seorang pembelajar,
dan kau pun menyerap aktifitas belajar sambil bermain itu dengan sempurna.
Ah, rasanya
seperti mimpi melihat dirimu ditatap kagum oleh orangtua lain yang mungkin
mereka berfikir “kok anak ini bisa ya ?”
Ya, untuk anak
seusia mu, kau seperti putri yang begitu menarik, kau supel, semangat, berani
dan cerdas. Aku lihat, ketika ibu guru tadi menyanyikan lagu-lagu baru, kau
coba mengikutinya, matamu menatap tajam kearah suara ibu guru, dan mulutmu pun
seperti komat kamit menirukan. Bukan bunda membandingkan dirimu dengan yang
lain, tapi, inilah yang bunda rasakan, bunda merasa menjadi ibu yang paling
beruntung sedunia. Walau dulu bunda berkali mengeluh tentang dirimu yang sulit
makan, susah tidur, tapi masih banyak sisi positif lain yang ada di diri mu.
Mengantuk bukan
halangan membuatmu untuk tetap belajar, kau tahan kantukmu, sementara
teman-teman yang lain menguap, bengong, tapi matamu tetap teguh mengambil
hikmah dari semua pelajaran.
Ya Allah,
mudahkan anakku menjadi seorang pembelajar sejati, mudahkan lah cahaya ilmu
merasuki hati dan fikirannya, agar ia tetap bersemangat dalam kondisi apapun,
sehingga, kelak, ia dapat membagi ilmu yang dimilikinya pada orang lain, aamiin…
Doa bunda selalu
menyertai mu sayang…!
Mazaaya Huurin
Dzakiyya, bidadari kebanggaanku, semoga langkah-langkah kecilku dan suami dalam
mendidikmu, kelak bisa menjadi syafaat untuk memasuki istana di surga, aamiin….
Insiden Marah
Hm, mendisiplinkan anak memang bukanlah hal yang mudah, apalagi bila itu menyangkut nama baik kita di depan mata masyarakat.
Misalnya, ketika
proses dispilin itu sedang terjadi manakala beberapa pasang mata menguntit kita
untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi antara kita dan anak kita. Seperti
halnya yang terjadi padaku kemarin sore. Kesal bin bete, itu yang aku rasakan.
Ceritanya, aku sudah mengatur jadwal
untuk mengikuti anak bermain di luar. Maza bangun tidur, main-main sebentar
bersamaku dilanjutkan dengan mandi dan makan sore, masih berkutat di dalam
rumah. Janjiku, ketika nanti makan selesai, Maza boleh main dulu di luar,
sementara aku mandi. Aku minta agar Maza tidak memanggil-manggil aku, untuk
minta ini dan itu. Ia pun menyanggupi. Jujur aja, aku hafal betul kebiasaan
dia.
Sore hari, banyak sekali tukang jualan hilir mudik depan rumahku. Tidak
satu atau dua tukang jualan, bisa lebih dari 4 jenis, yang tukang bubur ayam,
jus alpukat, bakso, siomay, belum lagi kalau tukang service jeans dan rosok-rosok
lewat, tambah banyak kan
? (kalau yang dua dari belakang nggak mungkin Maza manggil sih, hehe).
Mungkin
memang awalny ia tidak tertarik membeli satu atau dua dari sekian tukang jualan
yang lewat. Tapi, teman-temannya lah yang mendidiknya untuk ikut serta meramaikan
tukang jualan yang menggoda dengan irama khasnya memanggil pembeli, utamanya
anak-anak. Ada yang pakai ting-tingan, dong-dong-an, pakai musik plus lagu,
juga sekedar senyum menyapa anak-anak yang biasanya berkumpul di sore hari untuk
bermain.
Nah itu yang membuatku termotivasi untuk memberi warning sama Maza agar tidak memanggil-manggil aku. Selain
mengganggu kekhusukan mandi, juga karena aku tahu kalau ia sudah terlalu
kenyang makan nasi yang aku ambilkan lebih dari porsi biasanya. Ia menyanggupi
permintaan ku, kubukakan pintunya, mempersilahkan ia main dengan rekan-rekan
balitanya. Aku bisa leluasa membersihkan badan dengan jebar-jebur.
Sekitar 5
menit, walau dengan kucuran air yang deras, sayup-ssayup aku dengar suara orang
memanggil, “Bunda…!”, aku sih cuek saja, pintu depan sudah kututup kok.
Eh,
nggak lama, tahu-tahu, ada yang mengetuk pintu kamar mandi, “Bunda, bunda !”
kata suara diluar.
Hm , ini nih, sudah ada sinyal kuat, kalau dia pasti pengen
sesuatu, tapi kok dia bisa buka pintu luar ya ? fikirku bingung. Aku buka pintu
kamar mandi. Tanpa aku tanya pun, ia sudah bilang “aku mau bubur ayam, Bunda!”
katanya polos.
Ih, kenapa dia nggak ingat janjinya tadi sebelum ia main
ya ?!
Aku jawab “Nggak, Maza sudah kenyang. Main lagi aja sana, Bunda belum selesai, belum sholat
juga.”
Dia pergi sambil tetap merengek pingin bubur ayam. Hm, ternyata dia
mengambil mangkuk sendiri di lemari dapur. Ia kembali mengetuk pintu kamar
mandi dan menunjukkan padaku bahwa ia telah berhasil ambil mangkuk.
Ggrrhh,
kali kedua ia menganggu mandiku, padahal saat itu adalah jadwal dimana aku
harus memulai sholat lagi, setelah bersuci dari tamu bulanan, jadi butuh waktu lebih lama dari biasanya.
Aku longokkan kepala lagi “Maza dengar nggak, Bunda bilang nggak ya nggak, Maza
sudah kenyang, nanti muntah….!” Sambil bicara sedikit kesal kututup lagi pintu
kamar mandi.
Maza mulai menangis, yang tadinya merengek pelan mulai semakin
keras, aku bergegas menyelesaikan urusanku dikamar mandi. Aku keluar, ia
kembali menyambangi aku, sambil membawa mangkuk untuk meminta sejumlah uang
untuk dibayarkan ada tukang bubur tersebut. Dan, sialnya, itu tukang bubur
malah ngetem lagi didepan rumah, ada beberapa anak-anak yang membeli, seakan
semakin menggoda anakku untuk membelinya juga. Aku tetap bersikeras untuk tidak
menuruti permintaannya. Aku tahan tangan dan hati ku untuk tidak mengabulkan
permintaannya. Tangisnya semakin menjadi, seperti orang habis digebukin kali.
Aku kasih pilihan padanya “Maza mau main atau mau makan bubur ? Kalau mau
bubur, Maza nggak usah main. Kalau mau main nggak usah beli bubur. Gimana ?!
"
" Maza tadi sudah kenyang, suapan terakhir tadi dimuntahin, bilang sudah
kenyang.” kataku lagi.
Ia meronta-ronta dibalik pintu depan, sedang aku, karena belum mengenakan
jilbab, hanya berada di balik pintu. Kesal juga sebenarnya sama tuh tukang
bubur, kenapa nggak pergi-pergi, malah nunggu diluar, padahal aku sudah bilang,
“nggak beli, Pak!”
Entah karena masih ada yang beli, atau karena memang
menunggu anakku. Mau ngintip jendela juga susah, karena tuh jendela, harus
melewati pintu yang tengah dibuka Maza.
Dengan emosi yang tertahan, aku bilang
“Sini mangkuknya, Maza main lagi !” Ia tetap bersikeras ingin membeli. Ia
jatuhkan badannya dilantai, juga mangkuknya, menendang-nendang kakinya, menangis
sekeras-kerasnya, tau deh, satu RT denger kali.
Malu ? pastinya! Kesannya kok
bubur cuma dua ribu perak saja pelit banget...
Bukan apa-apa, selain dia sudah kenyang, aku pun tidak mau
membiasakannya ikut-ikutan temannya untuk membeli ini, itu, karena perilaku
seperti itu, bisa semakin menggila bila usianya semakin bertambah kalau tidak
dilatih sejak kecil.
Jadi, aku harus mulai untuk tegas, pada hal-hal yang
memang harus diatur, seperti jajan orang lewat. Bolehlah kalau memang ia belum
makan, atau ketika makanan di rumah sudah habis. Walaupun ia menangis
sekecang-kencangnya dengan sangat menyayat, apa boleh buat, dengan tega hati
dan rasa teriris-iris mendengar rintihannya, aku harus bisa menolak! Sambil
tetap menangis, mangkuk itu diberikan padaku, tinggal Maza yang harus masuk.
Gimana ya
caranya ? mana aku nguber sholat segala, fikirku. Pukul empat lewat lima belas menit, keburu kesorean kalau begini.
Kuambil jalan pintas.
“Maza, ayo
masuk, bunda hitung ya, kalau nggak bunda tutup pintu nya ! Satu !” belum ada
respon, malah makin keras tangisnya.
“Dua !” kuseru
lagi ia bak tentara yang sedang dikejar tugas.
Mau hitungan ketiga, ia mulai
beranjak masuk, dengan tangisan yang masih membuat hati teriris. Maza masuk,
pintu pun segera kututup. Terserah kalau mau
nangis mah, yang penting sudah masuk.
Aku sempat bilang
“Maza ko nggak nurut bunda, ya ? Tadi sebelum main janjinya apa ? Maza kan sudah kenyang !
bla, bla, bla” aku tinggalkan untuk segera sholat.
15 menit terlewati untuk
membujuknya masuk. Tau nggak ? sholatku nggak khusuk, karena ia masih menangis
di jendela menghadap keluar, sambil mengucapkan satu kata sandinya ketika
sedang bermasalah denganku, “Ayah…….!”.
Aku selesai sholat pun belum juga
berakhir tangisnya. Kupanggil ia, masih dalam kondisi terisak, aku cari cara
buat menenangkannya. Aku juga paham karakater Maza. Kalau kita mencoba untuk
longgar sedikit, tangisnya akan semakin menjadi.
Jadi, aku kasih kata ajaib
yang bisa membuatnya segera terdiam “Maza mau disayang bunda nggak ?”tanyaku.
Dia
mengangguk sambil terus menangis. “Kalau mau, diem ! berhenti nagisnya. Kalau
nggak berhenti, bunda nggak sayang sama
Maza”.
Sekali, belum ada respon, sampai perkataan kedua, baru ia mulai
memberhentikan tangisnya, meski masih sesunggukan. Ketika sesunggukan, aku
jelaskan tentang peristiwa kenapa aku tidak membolehkannya beli bubur sekaligus
kesalahannya karena tidak menuruti apa yang aku katakan. Aku diamkan ia beberapa saat, sebagai bukti bahwa ia berada
dalam posisi salah, dan aku tidak menyukai apa yang dilakukannya.
10 menit,
setelah tangisnya reda, ia mulai menyolek-nyolek aku dan ikut rebahan
disampingku hanya saja menghadap arah yang berlawanan denganku. Jual mahal
dikit boleh dong ? hehe.
Colekan keduanya, sambil menelungkupkn badannya diatas
pinggangku, aku tepis dengan tanganku, sambil bilang “Maza belum minta maaf kok
kalau salah, bunda nggak sayang kalau Maza kaya gitu”.
Ia pasang muka innocent,
wes, itu tuh senjatanya. Aku balikan badan lagi. Kembali ia menelungkupkan badannya,
kali ini di kakiku.
“Ayo, maza mau minta maaf nggak kalau salah ? “ kataku
lagi. Ia pun memberikan tangan kanannya pada ku untuk bersalaman. Aku juga menyambutnya
dengan tangan kananku.
Ketika episode bersalaman itu, aku tanya, “Maza minta
maaaf untuk apa ?”.
“Aku nggak nurut
bunda !”katanya sambil menahan senyum.
“Terus ?” kataku lagi.
“Aku udah kenyang, nggak usah beli bubur “
jawabnya lagi dengan gaya manja.
Aku memberikan
tangan untuk dicium olehnya, dan aku pun juga meminta maaf padanya, sambil
menciumi seluruh wajahnya. Ia pun
membalas menciumiku. Huf, selasai sudah perkara sama Maza. Walau malu
sama tetangga, tapi apa dikata. Disiplin harus tetap ditegakkan, walau berat
perjuangannya. Selain menaklukan Maza yang memang agak keras kemauannya, juga
menahan malu pada tetangga karena tangisan Maza yang cukup membahana.
Ya Rabb.
Semoga Kau mudahkan aku dama mendidik anakku, aamiin.
Sabtu, 30 April 2011
Percakapan Menjelang Tidur

Bunda : “Ayo maza, berdoa dulu mau bobo…”
Maza : “ Bismika Allahumma ahya wa bismikaa amuut.. amin bunda…”
Bunda : “Amin…”
Maza : “Ayah….amin…”
Ayah : “Amin….”
Maza : “ Cium Bunda…”
Bunda : “ anak sholihah, anak cerdas, anak pintar, anak sukses, anak rajin, sayang bunda, sayang ayah, sayang semua orang,amin.. I love you…” (sambil mencium pipi kanan,kiri, kening, sekaligus mendoakan).
Maza : “Ai yapu tu “ ( maksudnya I love you too), lalu berkata lagi “Ayah…cium…”
Langganan:
Postingan (Atom)
