SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, UNTAIAN SEDERHANA NAMUN SARAT MAKNA

Senin, 10 Desember 2012

Foto kenangan

Ini beberapa foto kenangan masa lalu saya, dimulai dari saat kuliah, sebelum menikah, hingga akhirnya ada Maza.

Saat kuliah bersama sahabat









                                                                  Saat baru menikah




Saat Maza lahir







                 

                                                                  Maza usia 2 bulan





     Maza usia 9 bulan





Maza usia 2 tahun


                                                                 Maza usia 3 tahun





Kreasiku.....

Ini beberapa gambar kreatifitas saya yang lain, dan diantaranya adalah gambar untuk buku antologi keterampilan saya. Memang, tidak semua yang saya buat di foto, hanya beberapa saja.


Selimut wadah tisue dari flanel
Pigura duduk dari flanel
Tempat pensil duduk dari kertas koran
Jepit rambut dari kertas koran
Wadah tisue dari koran
Boneka jari bentuk kucing dari flanel

Cara Membuat Boneka Jari

Hm, sedikit cerita dulu, ya ? Saya tipe orang yang tangannya susah sekali untuk diam. Karena sebab itu, saya suka mempelajari keterampilan yang melibatkan fungsi tangan saya untuk menjadikan suatu karya. Sebenarnya, karya ini biasa saja. Hanya saja ada nilai lebih buat saya sendiri. Yaitu, waktu belajar keterampilan kain flanel ini terbilang sangat singkat. Waktu itu saya diajari seorang teman SMU membuat kunciran rambut berbentuk bunga. Satu thok ! dari pelajaran singkat tersebut, saya bisa melatih dan berbagi ilmu pada anak-anak sekitar, dan saya mendapatkan fee melalui keterampilan ini.

Makin diselami saya makin penasaran. Akhirnya, saya membeli beberapa buku yang masih berkaitan tentang karya dari flanel ini, juga meminjam buku dari salah satu teman. Setelah lulus kuliah, sambil menunggu panggilan kerja, saya buat berbagai macam aksesoris, lalu menjualnya. Lumayan deh, bisa balik modal (waktu itu modal saya 500rb).

Dan, satu waktu, saya iseng menawarkan diri untuk membuatkan boneka jari yang gambarnya saya ambil dari hasil searching internet. Ternyata orangnya mau. hahay, jadilah boneka jari ala saya ini dibuat. Dan, setelah itu, ada tawaran dari teman untuk memberikan pelatihan pada anak-anak sekolah dasar untuk mengisi liburan mereka.

 Ini nih gambar boneka jarinya....



Lucu, kan.......? hehe

Saya juga baik loh ! Ini saya kasih cara buatnya ya...




Alat dan Bahan :

  • Kain flannel warna kuning, putih, oranye (selera)
  • Lem lilin
  • Tembakan untuk lem
  • Pensil dan kertas dupleks untuk  membuat pola
  • Manik-manik hitam
  • Gunting
  • Benang jahit warna kuning, hitam
  • Dakron
  • Tusuk Sate

Cara Membuat

Bagian kepala
  • Gunting bagian dasar kepala sesuai pola
  • Beri salah satu bagian kepala tersebut dua buah mata, jahit dengan warna benang yang sesuai.
  • Gabungkan kedua buah bagian kepala, jahit dengan tusuk feston.
  • Sisakan sedikit lubang jahtitan untuk memasukan dakron, setelah penuh, taruskan jahitan.
  • Beri tambahan flannel menyerupai cangkang telur yang pecah dibagian kepala, temple dengan lem tembak.
  • Beri tambahan flannel dibagian mulut anak ayam.

Bagian badan :
  • Gunting bagian badan dan tangan sesuai dengan pola yang telah dibuat
  • Jahit dengan menggunakan tusuk festoon disetiap sisinya, sisakan pada bagian bawah untuk tempat masuknya jari.

Penyelesaian :
  • Gabungkan flannel bagian kepala ke bagian badan dengan menggunakan lem tembak
  • Beri tangan pada bagian badan.
SELAMAT MENCOBA SAHABAT !





My Book’s


Mungkin ini belum seberapa, namun, inilah yang akan menjadi kenang-kenangan dariku buat anak cucuku kelak. Semoga semua segera terselesaikan, dan bisa berkarya semakin banyak lagi, dan Allah meridhoinya. Aamiin.

Debut pertama di buku antologi :

Antologi 1 : Kisah inspiratif tentang jodoh (Masih proses di penerbit)
Antologi 2 : Buku keterampilan Perlengkapan Rumah Tangga Aneka Bahan (proses penerbit Andi)
Antologi 3 : Puisi adalah Hidupku (sudah terbit)
Antologi 4 : Keterampilan daur ulang kertas koran (masih proses penerbit)
Antologi 5 : Kumpulan cerita pendek untuk anak dhuafa (sudah terbit)

Debut kedua buku solo sebanyak 6 buah. Berupa buku anak bergambar yang diterbitkan oleh penerbit Era Intermedia.
Judul-judulnya :

1. Aisha dan Pulpen Temuannya
2. Aisha dan Pungkus permennya
    3. Menjenguk Teman yang Sakit
    4. Adab makan
    5. Sita Sayang Mama
    6. Saling Menyayangi
   

Insiden Marah



Hm, mendisiplinkan anak memang bukanlah hal yang mudah, apalagi bila itu menyangkut nama baik kita di depan mata masyarakat.

Misalnya, ketika proses dispilin itu sedang terjadi manakala beberapa pasang mata menguntit kita untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi antara kita dan anak kita. Seperti halnya yang terjadi padaku kemarin sore. Kesal bin bete, itu yang aku  rasakan. 

Ceritanya, aku sudah mengatur jadwal untuk mengikuti anak bermain di luar. Maza bangun tidur, main-main sebentar bersamaku dilanjutkan dengan mandi dan makan sore, masih berkutat di dalam rumah. Janjiku, ketika nanti makan selesai, Maza boleh main dulu di luar, sementara aku mandi. Aku minta agar Maza tidak memanggil-manggil aku, untuk minta ini dan itu. Ia pun menyanggupi. Jujur aja, aku hafal betul kebiasaan dia.

 Sore hari, banyak sekali tukang jualan hilir mudik depan rumahku. Tidak satu atau dua tukang jualan, bisa lebih dari 4 jenis, yang tukang bubur ayam, jus alpukat, bakso, siomay, belum lagi kalau tukang service jeans dan rosok-rosok lewat, tambah banyak kan ? (kalau yang dua dari belakang nggak mungkin Maza manggil sih, hehe). 

Mungkin memang awalny ia tidak tertarik membeli satu atau dua dari sekian tukang jualan yang lewat. Tapi, teman-temannya lah yang mendidiknya untuk ikut serta meramaikan tukang jualan yang menggoda dengan irama khasnya memanggil pembeli, utamanya anak-anak. Ada yang pakai ting-tingan, dong-dong-an, pakai musik plus lagu, juga sekedar senyum menyapa anak-anak yang biasanya berkumpul di sore hari untuk bermain. 

Nah itu yang membuatku termotivasi untuk memberi warning sama Maza agar tidak memanggil-manggil aku. Selain mengganggu kekhusukan mandi, juga karena aku tahu kalau ia sudah terlalu kenyang makan nasi yang aku ambilkan lebih dari porsi biasanya. Ia menyanggupi permintaan ku, kubukakan pintunya, mempersilahkan ia main dengan rekan-rekan balitanya. Aku bisa leluasa membersihkan badan dengan jebar-jebur. 

Sekitar 5 menit, walau dengan kucuran air yang deras, sayup-ssayup aku dengar suara orang memanggil, “Bunda…!”, aku sih cuek saja, pintu depan sudah kututup kok. 

Eh, nggak lama, tahu-tahu, ada yang mengetuk pintu kamar mandi, “Bunda, bunda !” kata suara diluar. 

Hm , ini nih, sudah ada sinyal kuat, kalau dia pasti pengen sesuatu, tapi kok dia bisa buka pintu luar ya ? fikirku bingung. Aku buka pintu kamar mandi. Tanpa aku tanya pun, ia sudah bilang “aku mau bubur ayam, Bunda!” katanya polos. 

Ih, kenapa dia nggak ingat janjinya tadi sebelum ia main ya ?! 
Aku jawab “Nggak, Maza sudah kenyang. Main lagi aja sana, Bunda belum selesai, belum sholat juga.”

 Dia pergi sambil tetap merengek pingin bubur ayam. Hm, ternyata dia mengambil mangkuk sendiri di lemari dapur. Ia kembali mengetuk pintu kamar mandi dan menunjukkan padaku bahwa ia telah berhasil ambil mangkuk. 

Ggrrhh, kali kedua ia menganggu mandiku, padahal saat itu adalah jadwal dimana aku harus memulai sholat lagi, setelah bersuci dari tamu bulanan,  jadi butuh waktu lebih lama dari biasanya. 

Aku longokkan kepala lagi “Maza dengar nggak, Bunda bilang nggak ya nggak, Maza sudah kenyang, nanti muntah….!” Sambil bicara sedikit kesal kututup lagi pintu kamar mandi. 

Maza mulai menangis, yang tadinya merengek pelan mulai semakin keras, aku bergegas menyelesaikan urusanku dikamar mandi. Aku keluar, ia kembali menyambangi aku, sambil membawa mangkuk untuk meminta sejumlah uang untuk dibayarkan ada tukang bubur tersebut. Dan, sialnya, itu tukang bubur malah ngetem lagi didepan rumah, ada beberapa anak-anak yang membeli, seakan semakin menggoda anakku untuk membelinya juga. Aku tetap bersikeras untuk tidak menuruti permintaannya. Aku tahan tangan dan hati ku untuk tidak mengabulkan permintaannya. Tangisnya semakin menjadi, seperti orang habis digebukin kali. 

Aku kasih pilihan padanya “Maza mau main atau mau makan bubur ? Kalau mau bubur, Maza nggak usah main. Kalau mau main nggak usah beli bubur. Gimana ?! "
" Maza tadi sudah kenyang, suapan terakhir tadi dimuntahin, bilang sudah kenyang.” kataku lagi.

Ia meronta-ronta dibalik pintu depan, sedang aku, karena belum mengenakan jilbab, hanya berada di balik pintu. Kesal juga sebenarnya sama tuh tukang bubur, kenapa nggak pergi-pergi, malah nunggu diluar, padahal aku sudah bilang, “nggak beli, Pak!” 

Entah karena masih ada yang beli, atau karena memang menunggu anakku. Mau ngintip jendela juga susah, karena tuh jendela, harus melewati pintu yang tengah dibuka Maza. 

Dengan emosi yang tertahan, aku bilang “Sini mangkuknya, Maza main lagi !” Ia tetap bersikeras ingin membeli. Ia jatuhkan badannya dilantai, juga mangkuknya, menendang-nendang kakinya, menangis sekeras-kerasnya, tau deh, satu RT denger kali. 

Malu ? pastinya! Kesannya kok bubur cuma dua ribu perak saja pelit banget...
Bukan apa-apa, selain dia sudah kenyang, aku pun tidak mau membiasakannya ikut-ikutan temannya untuk membeli ini, itu, karena perilaku seperti itu, bisa semakin menggila bila usianya semakin bertambah kalau tidak dilatih sejak kecil. 

Jadi, aku harus mulai untuk tegas, pada hal-hal yang memang harus diatur, seperti jajan orang lewat. Bolehlah kalau memang ia belum makan, atau ketika makanan di rumah sudah habis. Walaupun ia menangis sekecang-kencangnya dengan sangat menyayat, apa boleh buat, dengan tega hati dan rasa teriris-iris mendengar rintihannya, aku harus bisa menolak! Sambil tetap menangis, mangkuk itu diberikan padaku, tinggal Maza yang  harus masuk.

Gimana ya caranya ? mana aku nguber sholat segala, fikirku. Pukul empat lewat lima belas menit, keburu kesorean kalau begini. Kuambil jalan pintas.

“Maza, ayo masuk, bunda hitung ya, kalau nggak bunda tutup pintu nya ! Satu !” belum ada respon, malah makin keras tangisnya. 

“Dua !” kuseru lagi ia bak tentara yang sedang dikejar tugas. 

Mau hitungan ketiga, ia mulai beranjak masuk, dengan tangisan yang masih membuat hati teriris. Maza masuk, pintu pun segera kututup. Terserah kalau mau  nangis mah, yang penting sudah masuk.

Aku sempat bilang “Maza ko nggak nurut bunda, ya ? Tadi sebelum main janjinya apa ? Maza kan sudah kenyang ! bla, bla, bla” aku tinggalkan untuk segera sholat. 
15 menit terlewati untuk membujuknya masuk. Tau nggak ? sholatku nggak khusuk, karena ia masih menangis di jendela menghadap keluar, sambil mengucapkan satu kata sandinya ketika sedang bermasalah denganku, “Ayah…….!”. 

Aku selesai sholat pun belum juga berakhir tangisnya. Kupanggil ia, masih dalam kondisi terisak, aku cari cara buat menenangkannya. Aku juga paham karakater Maza. Kalau kita mencoba untuk longgar sedikit, tangisnya akan semakin menjadi.

 Jadi, aku kasih kata ajaib yang bisa membuatnya segera terdiam “Maza mau disayang bunda nggak ?”tanyaku. 

Dia mengangguk sambil terus menangis. “Kalau mau, diem ! berhenti nagisnya. Kalau nggak berhenti, bunda  nggak sayang sama Maza”. 

Sekali, belum ada respon, sampai perkataan kedua, baru ia mulai memberhentikan tangisnya, meski masih sesunggukan. Ketika sesunggukan, aku jelaskan tentang peristiwa kenapa aku tidak membolehkannya beli bubur sekaligus kesalahannya karena tidak menuruti apa yang aku katakan. Aku diamkan ia  beberapa saat, sebagai bukti bahwa ia berada dalam posisi salah, dan aku tidak menyukai apa yang dilakukannya. 

10 menit, setelah tangisnya reda, ia mulai menyolek-nyolek aku dan ikut rebahan disampingku hanya saja menghadap arah yang berlawanan denganku. Jual mahal dikit boleh dong ? hehe. 

Colekan keduanya, sambil menelungkupkn badannya diatas pinggangku, aku tepis dengan tanganku, sambil bilang “Maza belum minta maaf kok kalau salah, bunda nggak sayang kalau Maza kaya gitu”. 

Ia pasang muka innocent, wes, itu tuh senjatanya. Aku balikan badan lagi. Kembali ia menelungkupkan badannya, kali ini di kakiku. 

“Ayo, maza mau minta maaf nggak kalau salah ? “ kataku lagi. Ia pun memberikan tangan kanannya pada ku untuk bersalaman. Aku juga menyambutnya dengan tangan kananku. 

Ketika episode bersalaman itu, aku tanya, “Maza minta maaaf untuk apa ?”. 

“Aku nggak nurut bunda !”katanya sambil menahan senyum.

 “Terus ?” kataku lagi.

 “Aku udah kenyang, nggak usah beli bubur “ jawabnya lagi dengan gaya manja. 

Aku memberikan tangan untuk dicium olehnya, dan aku pun juga meminta maaf padanya, sambil menciumi seluruh wajahnya. Ia pun  membalas menciumiku. Huf, selasai sudah perkara sama Maza. Walau malu sama tetangga, tapi apa dikata. Disiplin harus tetap ditegakkan, walau berat perjuangannya. Selain menaklukan Maza yang memang agak keras kemauannya, juga menahan malu pada tetangga karena tangisan Maza yang cukup membahana.

 Ya Rabb. Semoga Kau mudahkan aku dama mendidik anakku, aamiin.

Kamis, 06 Desember 2012

Teman Setelah Kematian Menjemput



Teringat status seorang teman di salah satu jejaring sosial yang masih booming hingga saat ini. Begini katanya :

“ Kalau usiaku nggak sampai 70 tahun, anak-anak sama siapa?”

“ Sama ayahnya dong..!” komentar pertama masuk.

“ Ayahnya ntar sama siapa ?” jawab si si pembuat status.

“ Ya, sama istrinya lah, neneknya mah ditinggal aja ! Hahaha…” kata penjawab pertama tadi.

“ Hah, sama istrinya dan neneknya ditinggal ? Wah, ternyata elo sudah jadi istri solehah ya? Subhanallah…” si pembuat status menutup komentar dengan pertanyaan sekaligus pernyataan, yang entah pujian jujur atau hanya sekedar iseng.

Saya ambil kejadian ini bukan tanpa maksud, namun, justru memiliki banyak sekali hikmah yang bisa di petik. Salah satunya adalah tentang kematian yang sudah pasti akan terjadi.


“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan“ (QS Ali Imran 185)


Egg Roll Renyah...

Hm, saya suka banget dengan yang namanya egg roll. Dari dulu benar-benar penasaran pengin bikin itu kue. Renyah, lembut dan enak banget !

Allah mempertemukan saya dengan penganan egg roll versi home made beberapa kali dengan orang berbeda. Nah, satu waktu, Allah menuntun dan mempertemukan saya dengan seorang teman kursus masak yang ternyata dia menjual egg roll yang dibuatnya sendiri. Awalnya saya coba membeli egg roll nya setengah kilo. Rasanya ? lumayan, dan paling tidak, tidak terlalu banyak bahan kimia yang digunakan, juga lebih hemat di kantong.... hehe

Dari situ, saya berfikir, dia aja bisa buat, masa sih saya nggak bisa ! Saya mulai browsing internet, mencari resepnya, dapat, simpan ! Tapi, rasanya kurang pas kalau belum langsung melihat cara buatnya, seperti apa proses penggulungannya, hingga bisa masuk toples.

Caranya, apalagi kalau bukan meminta teman penjual itu untuk membagi resepnya. Memang, diawalnya dia agak keberatan untuk membagi resepnya, namun setelah dipaksa rekan yang lain, hehe, akhirnya dia mau mengajarkannya dengan membuatnya bersama-sama saat kursus masak berlangsung.

Oh, gini ya bentuk cetakannya, cara menggulungnya begini, cara ininya begitu...hm...jadi tahu !

Jadinya ? Ya...agak kecewa sih, karena rasanya, teksturnya, lain dengan yang dia jual. Dia menakar perbandingan antara sagu dan terigu, itu 1 :2, terlalu padat, dankurang renyah. Ah, biar deh, saya punya cadangan resep hasil browsing, kok, bisa coba resep itu.

Percobaan pertama saya mulai, oh, ternyata rasanya hampir mirip dengan resep temanku. Akhirnya, dengan modal pengetahuan per'kue'an yang saya miliki, saya takar sendiri dengan insting lidah dan memory saya tentang egg roll kesukaan saya.

Ini nih, resepnya, lumayan lebih renyah, dan lebih empur gitu....:)


RESEP EGG ROLL


Bahan A:

4 btr telur
125gr gula pasir
1 sdt cake emulsifier

Bahan B:

125 gr tepung terigu
1 sdm tepung sagu
1 sdt baking powder
3 sdm susu bubuk

Bahan C:

110 gr margarine, leleh

Cara Membuat:

Kocok bahan A hingga mengembang dan kental, masukkan bahan B aduk rata, lalu tuangi bahan C, aduk balik hingga rata.

Panaskan cetakan Egg Roll, tuang 1 sdm adonan dibagian tengah, segera tutup cetakan dan biarkan lk. 5 menit hingga adonan matang.

Buka cetakan, lalu gulung cake dengan bantuan sumpit. Angkat biarkan dingin, lepaskan dari sumpit. Lakukan hingga adonan habis.

Kemas dalam toples rapat.



Tips dari saya:

Dalam proses penggulungan adalah tentang pori-pori yang biasa muncul di egg roll buatan pabrik. Tehniknya adalah dengan membalik cetakan, dan menjatuhkan adonan yang berada dibagian bawah ke cetakan atasnya, terus gulung deh ! jadi, pori-pori dibagian bawah itu berada di bagian luar.




SELAMAT MENCOBA YA...! (BELOM BISA UPLOAD FOTO KARENA KENDALA TEKNIS )