SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, UNTAIAN SEDERHANA NAMUN SARAT MAKNA

Senin, 10 Desember 2012

Cara Membuat Boneka Jari

Hm, sedikit cerita dulu, ya ? Saya tipe orang yang tangannya susah sekali untuk diam. Karena sebab itu, saya suka mempelajari keterampilan yang melibatkan fungsi tangan saya untuk menjadikan suatu karya. Sebenarnya, karya ini biasa saja. Hanya saja ada nilai lebih buat saya sendiri. Yaitu, waktu belajar keterampilan kain flanel ini terbilang sangat singkat. Waktu itu saya diajari seorang teman SMU membuat kunciran rambut berbentuk bunga. Satu thok ! dari pelajaran singkat tersebut, saya bisa melatih dan berbagi ilmu pada anak-anak sekitar, dan saya mendapatkan fee melalui keterampilan ini.

Makin diselami saya makin penasaran. Akhirnya, saya membeli beberapa buku yang masih berkaitan tentang karya dari flanel ini, juga meminjam buku dari salah satu teman. Setelah lulus kuliah, sambil menunggu panggilan kerja, saya buat berbagai macam aksesoris, lalu menjualnya. Lumayan deh, bisa balik modal (waktu itu modal saya 500rb).

Dan, satu waktu, saya iseng menawarkan diri untuk membuatkan boneka jari yang gambarnya saya ambil dari hasil searching internet. Ternyata orangnya mau. hahay, jadilah boneka jari ala saya ini dibuat. Dan, setelah itu, ada tawaran dari teman untuk memberikan pelatihan pada anak-anak sekolah dasar untuk mengisi liburan mereka.

 Ini nih gambar boneka jarinya....



Lucu, kan.......? hehe

Saya juga baik loh ! Ini saya kasih cara buatnya ya...




Alat dan Bahan :

  • Kain flannel warna kuning, putih, oranye (selera)
  • Lem lilin
  • Tembakan untuk lem
  • Pensil dan kertas dupleks untuk  membuat pola
  • Manik-manik hitam
  • Gunting
  • Benang jahit warna kuning, hitam
  • Dakron
  • Tusuk Sate

Cara Membuat

Bagian kepala
  • Gunting bagian dasar kepala sesuai pola
  • Beri salah satu bagian kepala tersebut dua buah mata, jahit dengan warna benang yang sesuai.
  • Gabungkan kedua buah bagian kepala, jahit dengan tusuk feston.
  • Sisakan sedikit lubang jahtitan untuk memasukan dakron, setelah penuh, taruskan jahitan.
  • Beri tambahan flannel menyerupai cangkang telur yang pecah dibagian kepala, temple dengan lem tembak.
  • Beri tambahan flannel dibagian mulut anak ayam.

Bagian badan :
  • Gunting bagian badan dan tangan sesuai dengan pola yang telah dibuat
  • Jahit dengan menggunakan tusuk festoon disetiap sisinya, sisakan pada bagian bawah untuk tempat masuknya jari.

Penyelesaian :
  • Gabungkan flannel bagian kepala ke bagian badan dengan menggunakan lem tembak
  • Beri tangan pada bagian badan.
SELAMAT MENCOBA SAHABAT !





My Book’s


Mungkin ini belum seberapa, namun, inilah yang akan menjadi kenang-kenangan dariku buat anak cucuku kelak. Semoga semua segera terselesaikan, dan bisa berkarya semakin banyak lagi, dan Allah meridhoinya. Aamiin.

Debut pertama di buku antologi :

Antologi 1 : Kisah inspiratif tentang jodoh (Masih proses di penerbit)
Antologi 2 : Buku keterampilan Perlengkapan Rumah Tangga Aneka Bahan (proses penerbit Andi)
Antologi 3 : Puisi adalah Hidupku (sudah terbit)
Antologi 4 : Keterampilan daur ulang kertas koran (masih proses penerbit)
Antologi 5 : Kumpulan cerita pendek untuk anak dhuafa (sudah terbit)

Debut kedua buku solo sebanyak 6 buah. Berupa buku anak bergambar yang diterbitkan oleh penerbit Era Intermedia.
Judul-judulnya :

1. Aisha dan Pulpen Temuannya
2. Aisha dan Pungkus permennya
    3. Menjenguk Teman yang Sakit
    4. Adab makan
    5. Sita Sayang Mama
    6. Saling Menyayangi
   

Insiden Marah



Hm, mendisiplinkan anak memang bukanlah hal yang mudah, apalagi bila itu menyangkut nama baik kita di depan mata masyarakat.

Misalnya, ketika proses dispilin itu sedang terjadi manakala beberapa pasang mata menguntit kita untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi antara kita dan anak kita. Seperti halnya yang terjadi padaku kemarin sore. Kesal bin bete, itu yang aku  rasakan. 

Ceritanya, aku sudah mengatur jadwal untuk mengikuti anak bermain di luar. Maza bangun tidur, main-main sebentar bersamaku dilanjutkan dengan mandi dan makan sore, masih berkutat di dalam rumah. Janjiku, ketika nanti makan selesai, Maza boleh main dulu di luar, sementara aku mandi. Aku minta agar Maza tidak memanggil-manggil aku, untuk minta ini dan itu. Ia pun menyanggupi. Jujur aja, aku hafal betul kebiasaan dia.

 Sore hari, banyak sekali tukang jualan hilir mudik depan rumahku. Tidak satu atau dua tukang jualan, bisa lebih dari 4 jenis, yang tukang bubur ayam, jus alpukat, bakso, siomay, belum lagi kalau tukang service jeans dan rosok-rosok lewat, tambah banyak kan ? (kalau yang dua dari belakang nggak mungkin Maza manggil sih, hehe). 

Mungkin memang awalny ia tidak tertarik membeli satu atau dua dari sekian tukang jualan yang lewat. Tapi, teman-temannya lah yang mendidiknya untuk ikut serta meramaikan tukang jualan yang menggoda dengan irama khasnya memanggil pembeli, utamanya anak-anak. Ada yang pakai ting-tingan, dong-dong-an, pakai musik plus lagu, juga sekedar senyum menyapa anak-anak yang biasanya berkumpul di sore hari untuk bermain. 

Nah itu yang membuatku termotivasi untuk memberi warning sama Maza agar tidak memanggil-manggil aku. Selain mengganggu kekhusukan mandi, juga karena aku tahu kalau ia sudah terlalu kenyang makan nasi yang aku ambilkan lebih dari porsi biasanya. Ia menyanggupi permintaan ku, kubukakan pintunya, mempersilahkan ia main dengan rekan-rekan balitanya. Aku bisa leluasa membersihkan badan dengan jebar-jebur. 

Sekitar 5 menit, walau dengan kucuran air yang deras, sayup-ssayup aku dengar suara orang memanggil, “Bunda…!”, aku sih cuek saja, pintu depan sudah kututup kok. 

Eh, nggak lama, tahu-tahu, ada yang mengetuk pintu kamar mandi, “Bunda, bunda !” kata suara diluar. 

Hm , ini nih, sudah ada sinyal kuat, kalau dia pasti pengen sesuatu, tapi kok dia bisa buka pintu luar ya ? fikirku bingung. Aku buka pintu kamar mandi. Tanpa aku tanya pun, ia sudah bilang “aku mau bubur ayam, Bunda!” katanya polos. 

Ih, kenapa dia nggak ingat janjinya tadi sebelum ia main ya ?! 
Aku jawab “Nggak, Maza sudah kenyang. Main lagi aja sana, Bunda belum selesai, belum sholat juga.”

 Dia pergi sambil tetap merengek pingin bubur ayam. Hm, ternyata dia mengambil mangkuk sendiri di lemari dapur. Ia kembali mengetuk pintu kamar mandi dan menunjukkan padaku bahwa ia telah berhasil ambil mangkuk. 

Ggrrhh, kali kedua ia menganggu mandiku, padahal saat itu adalah jadwal dimana aku harus memulai sholat lagi, setelah bersuci dari tamu bulanan,  jadi butuh waktu lebih lama dari biasanya. 

Aku longokkan kepala lagi “Maza dengar nggak, Bunda bilang nggak ya nggak, Maza sudah kenyang, nanti muntah….!” Sambil bicara sedikit kesal kututup lagi pintu kamar mandi. 

Maza mulai menangis, yang tadinya merengek pelan mulai semakin keras, aku bergegas menyelesaikan urusanku dikamar mandi. Aku keluar, ia kembali menyambangi aku, sambil membawa mangkuk untuk meminta sejumlah uang untuk dibayarkan ada tukang bubur tersebut. Dan, sialnya, itu tukang bubur malah ngetem lagi didepan rumah, ada beberapa anak-anak yang membeli, seakan semakin menggoda anakku untuk membelinya juga. Aku tetap bersikeras untuk tidak menuruti permintaannya. Aku tahan tangan dan hati ku untuk tidak mengabulkan permintaannya. Tangisnya semakin menjadi, seperti orang habis digebukin kali. 

Aku kasih pilihan padanya “Maza mau main atau mau makan bubur ? Kalau mau bubur, Maza nggak usah main. Kalau mau main nggak usah beli bubur. Gimana ?! "
" Maza tadi sudah kenyang, suapan terakhir tadi dimuntahin, bilang sudah kenyang.” kataku lagi.

Ia meronta-ronta dibalik pintu depan, sedang aku, karena belum mengenakan jilbab, hanya berada di balik pintu. Kesal juga sebenarnya sama tuh tukang bubur, kenapa nggak pergi-pergi, malah nunggu diluar, padahal aku sudah bilang, “nggak beli, Pak!” 

Entah karena masih ada yang beli, atau karena memang menunggu anakku. Mau ngintip jendela juga susah, karena tuh jendela, harus melewati pintu yang tengah dibuka Maza. 

Dengan emosi yang tertahan, aku bilang “Sini mangkuknya, Maza main lagi !” Ia tetap bersikeras ingin membeli. Ia jatuhkan badannya dilantai, juga mangkuknya, menendang-nendang kakinya, menangis sekeras-kerasnya, tau deh, satu RT denger kali. 

Malu ? pastinya! Kesannya kok bubur cuma dua ribu perak saja pelit banget...
Bukan apa-apa, selain dia sudah kenyang, aku pun tidak mau membiasakannya ikut-ikutan temannya untuk membeli ini, itu, karena perilaku seperti itu, bisa semakin menggila bila usianya semakin bertambah kalau tidak dilatih sejak kecil. 

Jadi, aku harus mulai untuk tegas, pada hal-hal yang memang harus diatur, seperti jajan orang lewat. Bolehlah kalau memang ia belum makan, atau ketika makanan di rumah sudah habis. Walaupun ia menangis sekecang-kencangnya dengan sangat menyayat, apa boleh buat, dengan tega hati dan rasa teriris-iris mendengar rintihannya, aku harus bisa menolak! Sambil tetap menangis, mangkuk itu diberikan padaku, tinggal Maza yang  harus masuk.

Gimana ya caranya ? mana aku nguber sholat segala, fikirku. Pukul empat lewat lima belas menit, keburu kesorean kalau begini. Kuambil jalan pintas.

“Maza, ayo masuk, bunda hitung ya, kalau nggak bunda tutup pintu nya ! Satu !” belum ada respon, malah makin keras tangisnya. 

“Dua !” kuseru lagi ia bak tentara yang sedang dikejar tugas. 

Mau hitungan ketiga, ia mulai beranjak masuk, dengan tangisan yang masih membuat hati teriris. Maza masuk, pintu pun segera kututup. Terserah kalau mau  nangis mah, yang penting sudah masuk.

Aku sempat bilang “Maza ko nggak nurut bunda, ya ? Tadi sebelum main janjinya apa ? Maza kan sudah kenyang ! bla, bla, bla” aku tinggalkan untuk segera sholat. 
15 menit terlewati untuk membujuknya masuk. Tau nggak ? sholatku nggak khusuk, karena ia masih menangis di jendela menghadap keluar, sambil mengucapkan satu kata sandinya ketika sedang bermasalah denganku, “Ayah…….!”. 

Aku selesai sholat pun belum juga berakhir tangisnya. Kupanggil ia, masih dalam kondisi terisak, aku cari cara buat menenangkannya. Aku juga paham karakater Maza. Kalau kita mencoba untuk longgar sedikit, tangisnya akan semakin menjadi.

 Jadi, aku kasih kata ajaib yang bisa membuatnya segera terdiam “Maza mau disayang bunda nggak ?”tanyaku. 

Dia mengangguk sambil terus menangis. “Kalau mau, diem ! berhenti nagisnya. Kalau nggak berhenti, bunda  nggak sayang sama Maza”. 

Sekali, belum ada respon, sampai perkataan kedua, baru ia mulai memberhentikan tangisnya, meski masih sesunggukan. Ketika sesunggukan, aku jelaskan tentang peristiwa kenapa aku tidak membolehkannya beli bubur sekaligus kesalahannya karena tidak menuruti apa yang aku katakan. Aku diamkan ia  beberapa saat, sebagai bukti bahwa ia berada dalam posisi salah, dan aku tidak menyukai apa yang dilakukannya. 

10 menit, setelah tangisnya reda, ia mulai menyolek-nyolek aku dan ikut rebahan disampingku hanya saja menghadap arah yang berlawanan denganku. Jual mahal dikit boleh dong ? hehe. 

Colekan keduanya, sambil menelungkupkn badannya diatas pinggangku, aku tepis dengan tanganku, sambil bilang “Maza belum minta maaf kok kalau salah, bunda nggak sayang kalau Maza kaya gitu”. 

Ia pasang muka innocent, wes, itu tuh senjatanya. Aku balikan badan lagi. Kembali ia menelungkupkan badannya, kali ini di kakiku. 

“Ayo, maza mau minta maaf nggak kalau salah ? “ kataku lagi. Ia pun memberikan tangan kanannya pada ku untuk bersalaman. Aku juga menyambutnya dengan tangan kananku. 

Ketika episode bersalaman itu, aku tanya, “Maza minta maaaf untuk apa ?”. 

“Aku nggak nurut bunda !”katanya sambil menahan senyum.

 “Terus ?” kataku lagi.

 “Aku udah kenyang, nggak usah beli bubur “ jawabnya lagi dengan gaya manja. 

Aku memberikan tangan untuk dicium olehnya, dan aku pun juga meminta maaf padanya, sambil menciumi seluruh wajahnya. Ia pun  membalas menciumiku. Huf, selasai sudah perkara sama Maza. Walau malu sama tetangga, tapi apa dikata. Disiplin harus tetap ditegakkan, walau berat perjuangannya. Selain menaklukan Maza yang memang agak keras kemauannya, juga menahan malu pada tetangga karena tangisan Maza yang cukup membahana.

 Ya Rabb. Semoga Kau mudahkan aku dama mendidik anakku, aamiin.

Kamis, 06 Desember 2012

Teman Setelah Kematian Menjemput



Teringat status seorang teman di salah satu jejaring sosial yang masih booming hingga saat ini. Begini katanya :

“ Kalau usiaku nggak sampai 70 tahun, anak-anak sama siapa?”

“ Sama ayahnya dong..!” komentar pertama masuk.

“ Ayahnya ntar sama siapa ?” jawab si si pembuat status.

“ Ya, sama istrinya lah, neneknya mah ditinggal aja ! Hahaha…” kata penjawab pertama tadi.

“ Hah, sama istrinya dan neneknya ditinggal ? Wah, ternyata elo sudah jadi istri solehah ya? Subhanallah…” si pembuat status menutup komentar dengan pertanyaan sekaligus pernyataan, yang entah pujian jujur atau hanya sekedar iseng.

Saya ambil kejadian ini bukan tanpa maksud, namun, justru memiliki banyak sekali hikmah yang bisa di petik. Salah satunya adalah tentang kematian yang sudah pasti akan terjadi.


“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan“ (QS Ali Imran 185)


Egg Roll Renyah...

Hm, saya suka banget dengan yang namanya egg roll. Dari dulu benar-benar penasaran pengin bikin itu kue. Renyah, lembut dan enak banget !

Allah mempertemukan saya dengan penganan egg roll versi home made beberapa kali dengan orang berbeda. Nah, satu waktu, Allah menuntun dan mempertemukan saya dengan seorang teman kursus masak yang ternyata dia menjual egg roll yang dibuatnya sendiri. Awalnya saya coba membeli egg roll nya setengah kilo. Rasanya ? lumayan, dan paling tidak, tidak terlalu banyak bahan kimia yang digunakan, juga lebih hemat di kantong.... hehe

Dari situ, saya berfikir, dia aja bisa buat, masa sih saya nggak bisa ! Saya mulai browsing internet, mencari resepnya, dapat, simpan ! Tapi, rasanya kurang pas kalau belum langsung melihat cara buatnya, seperti apa proses penggulungannya, hingga bisa masuk toples.

Caranya, apalagi kalau bukan meminta teman penjual itu untuk membagi resepnya. Memang, diawalnya dia agak keberatan untuk membagi resepnya, namun setelah dipaksa rekan yang lain, hehe, akhirnya dia mau mengajarkannya dengan membuatnya bersama-sama saat kursus masak berlangsung.

Oh, gini ya bentuk cetakannya, cara menggulungnya begini, cara ininya begitu...hm...jadi tahu !

Jadinya ? Ya...agak kecewa sih, karena rasanya, teksturnya, lain dengan yang dia jual. Dia menakar perbandingan antara sagu dan terigu, itu 1 :2, terlalu padat, dankurang renyah. Ah, biar deh, saya punya cadangan resep hasil browsing, kok, bisa coba resep itu.

Percobaan pertama saya mulai, oh, ternyata rasanya hampir mirip dengan resep temanku. Akhirnya, dengan modal pengetahuan per'kue'an yang saya miliki, saya takar sendiri dengan insting lidah dan memory saya tentang egg roll kesukaan saya.

Ini nih, resepnya, lumayan lebih renyah, dan lebih empur gitu....:)


RESEP EGG ROLL


Bahan A:

4 btr telur
125gr gula pasir
1 sdt cake emulsifier

Bahan B:

125 gr tepung terigu
1 sdm tepung sagu
1 sdt baking powder
3 sdm susu bubuk

Bahan C:

110 gr margarine, leleh

Cara Membuat:

Kocok bahan A hingga mengembang dan kental, masukkan bahan B aduk rata, lalu tuangi bahan C, aduk balik hingga rata.

Panaskan cetakan Egg Roll, tuang 1 sdm adonan dibagian tengah, segera tutup cetakan dan biarkan lk. 5 menit hingga adonan matang.

Buka cetakan, lalu gulung cake dengan bantuan sumpit. Angkat biarkan dingin, lepaskan dari sumpit. Lakukan hingga adonan habis.

Kemas dalam toples rapat.



Tips dari saya:

Dalam proses penggulungan adalah tentang pori-pori yang biasa muncul di egg roll buatan pabrik. Tehniknya adalah dengan membalik cetakan, dan menjatuhkan adonan yang berada dibagian bawah ke cetakan atasnya, terus gulung deh ! jadi, pori-pori dibagian bawah itu berada di bagian luar.




SELAMAT MENCOBA YA...! (BELOM BISA UPLOAD FOTO KARENA KENDALA TEKNIS )

Kamis, 29 November 2012

Mimpiku Bersama Modena




“ Capek deh… ! Cuma manggang brownies aja, nunggunya seabad…!”

Saat membuat sponge cake, “ Liat tuh, Yah, ditusuk-tusuk belum matang juga, masih lembek bagian dalamnya, ih, bikin bete…!” Keluhku sambil manyun, suami hanya bisa tertawa kecil menyaksikan gerutuanku.

“ Ya ampun, macaroni panggang ini, kok yang bawah gosong, yang atas masih kelihatan mentah, ya?”

Dan, selalu saja begitu. Komplain tidak pernah reda dari si oven tangkring hitam pekat ini. Mungkin kalau oven itu bisa bicara, dia juga akan protes, “siapa suruh lu pakai gue, hah!”

Dulu, awal-awal aku memiliki oven tangkring ini tidak lepas dari kesukaanku membuat berbagai macam camilan. Dari pada beli terus camilannya, kan pastinya lebih boros, dan tidak semua makanan yang aku beli terjamin kebersihan, juga gizinya. Jadi, demi rasa sayang terhadap kantong dan tubuh, jadi deh, aku rencanakan beli oven itu. Yang awal aku beli adalah mixer, timbangan dan beberapa loyang yang aku butuhkan.

Namun, saat oven belum sempat terbeli, aku mendapat kabar bahwa ayahku, di Jakarta, terkena serangan stroke mendadak. Alhasil, aku dan suami yang saat itu masih sepuluh bulan menjadi pengantin, dan berdomisili di Solo, langsung berangkat ke Jakarta.

Menjenguk dan menunggu ayah yang sakit selama tiga minggu justru membawa rezeki tersendiri buatku, yaitu dapat peralatan masak gratis. Ceritanya, aku iseng ngomong ke Ibu, kalau aku mulai senang membuat kue-kue, dari situ, Ibu justru menawarkan aku untuk memboyong semua peralatan masaknya, dari mulai cetakan, mixer, timbangan, dan lain-lain, termasuk juga oven tangkring itu. Belum lagi ditambah satu set keramik yang bagus dan bikin ngiler. Senang ? Pastinya lah…siapa juga yang nggak senang dapat barang gratisan, hehe.




Memang sih, sebagian dari peralatan itu sudah aku miliki, tapi, aku tetap saja memilih yang punya Ibu, karena dari segi merk lebih bagus dari yang aku punya. Punyaku ? Ya, dari pada mubazir, jadi sebagian aku jual lagi, lumayan, masuk kantong lagi :D



Nah, itu cerita awal saat aku punya oven tangkring, manis sekali, warnanya hitam pekat. Tapi, menjadi tidak manis setelah tahu cara kerja si oven ini. Ternyata, warna hitamnya itu lah yang membuat penyebaran panas api di kompor tidak merata, jadi lama…sekali proses masaknya, dan aku merasa, setiap kali aku memasak dengan oven itu semakin membuang-buang waktu, buang gas elpiji, dan bikin makan ati, sebel…!

Tapi, karena yang kupunya baru itu, ya, terpaksa aku harus menikmatinya.
Pernah satu waktu aku kembali membuat sponge cake karena penasaran dengan hasilnya. Harapanku sponge cake kali ini bisa lebih empuk dan berongga, tidak terlalu coklat, tidak bergelembung bagian atasnya, atau matang di bawah, mentah di dalam.

Setelah proses pengocokan, seperti biasa, masuk lah adonan itu ke dalam oven tangkring. Nah, saat pemanggangan yang biasanya lama sekali ( oven jadul ), dan demi mencegah kebosanan aku bolak balik mantengin FB (facebook).

Saat aku mencari-cari sesuatu yang bisa menyegarkan pandangan, ada seorang teman yang meng-upload link sebuah gambar dapur bersih dengan peralatan masak yang keren, high quality, dan mewah. Mataku langsung melotot melihat barang bagus. Aku perhatikan setiap detailnya, mulai dari kompor tanam, oven, microwave, cooker hood, ah, indah banget….!




Saat aku klik gambarnya, langsung diarahkan untuk melihat beberapa desain dapur yang menawan, cantik, elegan dan wah itu.

Dunia imajinasiku mulai bekerja. Membayangkan dapur indah dengan peralatan lengkap ini akan aku gunakan setiap hari. Tapi, rasanya untuk rumahku yang tergolong mungil, desain seperti ini tidak cocok. Mulai lah aku berselancar mengamati satu demi satu desain untuk dapur mungilku. Nah, ini dia, aku dapat !



Setelah kuperhatikan setiap detail produknya dan tulisan yang tertera di sana, ooo, ternyata produk MODENA. Tatapan mata yang tidak ingin beralih dari layar laptop, mulai mengetikkan kata kunci di mesin pencari, MODENA. Dalam sekejap berbagai link yang terhubung kesana terlihat, kuklik satu link yang mengarah ke sebuah fans page di FB.

Oh, ini ya produk MODENA. Pas sekali. Produk yang hadir di Indonesia sejak 1981, menunjang gaya hidup modern masyarakat Indonesia dalam 3 lini kategori, yaitu Cooking, cleaning, cooling, yang menekankan pada aspek estetika desain, kaya akan fitur yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pengguna (user friendly), penerapan teknologi terkini serta ramah lingkungan. Solusi cerdas dalam menciptakan smart living , menciptakan kualitas hidup yang lebih baik dan direkomendasikan bagi masyarakat Indonesia.

Setelah puas melihat-lihat, kembali kuamati desain dapur mungil tadi, rasanya masih belum terbayang jika belum dijadikan satu dengan perabot dapur yang lain. Karena rasa penasaran, aku mulai membaca Fans Page MODENA di FB, dapat juga nih desain dapur mungilnya.




Setelah puas mengamati, mulailah aku mengembarakan fikiranku. Kupejamkan mata untuk membayangkan rasanya saat aku berada disana, menggunakan produk tersebut. Fikiranku mulai berkelana, aku pun terlelap dalam buaian rangkaian produk Modena yang sempat kulihat tadi.

Aku mulai beraksi di dapur, pertama, aku mulai dengan membuat roti sandwich yang susah-susah gampang. Repot juga karena melibatkan banyak bahan makanan mentah dan matang yang akan dipakai. Namun, dengan hadirnya toaster MODENA, membuat sandwich tidak perlu susah lagi, palagi bisa langsung memasak telur sekalian, semakin memudahkan...




Kegiatan selanjutnya adalah membuat pizza dengan cepet. Aku pakai Buit-in Oven nya MODENA. Soalnya selain gampang dan cepet, matangnya juga merata karena  panas atas bawah yang bisa dinyalakan bersamaan, bahkan ada elemen panas juga di bagian belakang.



Pizzaku jadiii!



Waktunya bikin sponge cake ! Ya, menikmati peralatan bagus dengan membuat makanan sebanyak mungkin, lalu mengajak tetangga dan kerabat untuk makan bersama, hehe.





Aku awali dengan menyiapkan bahan-bahan kue, peralatan, lalu menakarnya, mengaduknya. setelah adonan siap, kubuka pintu oven, lalu memanggangnya didalam BO White Series. Fitur Chrome Shelves Railing pada BO White Series artinya rel raknya BO dibuat dari bahan chrome steel yang tahan panas, nggak gampang terkelupas dan tahan karat.

Saat pemanggangan, ditulis di resep, waktu panggang 20 menit. Jadi, timernya pun bisa diatur sesuai resep, tanpa harus kelebihan waktu yang bisa mengakibatkan kegosongan.


Sambil memanggang, aku masih bisa juga menggunakan kompor tanam Crista White Series, yang elegan dan penuh nuansa kekinian.



Taraaa, tepat 20 menit dengan suhu 180 derajat celcius, sponge cake sudah siap…! Yummy…!

Ya, pasti deh waktu panggangnya bisa akurat, pas, juga suhu yang diinginkan bisa diatur sesuai aturan resep, jadi, kemungkinan terjadi kegagalan itu sangat minim sekali.

Aku mulai menyiapkan piring, menunggu kue dingin, lalu dihias dengan butter cream, lelehan coklat atau fondan.

Kuratakan butter tersebut keatas kue yang sudah dingin dengan perlahan-lahan. Oh, iya, buah strawbery dan hiasan lainnya ada di kulkas. Kubuka kulkas, mengambil hiasan untuk kue. Buah yang ditaruh di kulkas masih bagus, tetap segar dan tidak merusak penampilannya. Sambil mengambil strawbery, selai, keju, aku juga menikmati minuman dingin yang terdapat di dalamnya. Nikmat sekali…!

Kulkas MODENA type ini, Niveo RF 2565 pas sekali untuk konsep dapur yang aku inginkan. Kapasitas kulkas yang besar, dan kualitas yang bagus, pasti akan sangat bermanfaat untuk keluargaku.




Saat sedang menikmati kesegaran minuman dan menghias kue tadi, aku dikejutkan oleh bau-bauan yang kurang enak. Mimpi indahku terlepas, dengan tergesa-gesa, aku berdiri. Indra penciumanku yang sensitif mengajakku segera berlari menuju sumber bau tadi. Masuk ke dapur, memeriksa oven tangkringku, mengeluarkan kue, lalu berteriak,

“ Kueku gosongggg…..!”



Aku cuma bisa pasrah tak berdaya. Segera kumatikan kompor, dan meratapi kue gosong itu. Membuka pintu oven perlahan, sehingga kurasakan uap panas menjalari wajah dan tanganku. Sekelebat, kubayangkan cooker hood dari MODENA, desain yang elegan dan simple, pasti tidak sepengap dan sepanas ini jika dapurku juga menggunakan produk tersebut, karena panas yang dihasilkan dari oven akan langsung terserap sempurna ke dalam cooker hood.




Kutaruh kue gosong itu ke atas meja. Saat masih dalam loyang, kupotong perlahan, huf, bagian dalamnya belum terlalu kering. Antara kecewa dengan penampakan kue, juga masih tersisa ruang bahagia karena aku sempat tertidur dan bermimpi bersama MODENA.

Brakkk!!! Glodaak! Brukkk!

Kembali aku terkejut. Ketika momen itulah sponge cake gosong itu tersenggol tanganku dan akhirnya jatuh kelantai berkarpet dalam posisi loyang miring. Sebagian kue remuk di dalamnya, serpihannya yang gosong mengotori karpet.

Ingin rasanya aku menangis yang keras. Sudah kuenya gosong, jatuh, hancur pula karena suara kucing diatas eternit rumah tadi. Kuambil sisa kue yang masih ‘agak’ utuh, untuk sekedar menunjukan ke suami, kalau aku habis bikin kue, walau gagal. Kutinggalkan kue itu diatas meja.

Saat membersihkan karpet dengan sapu lidi dan sulak, aku kembali memutar memori tentang peralatan MODENA yang kulihat sebelumnya, salah satunya ada yang dikhususkan untuk membersihkan karpet, yaitu vacuum cleaner VC 2003, ia memiliki keunggulan teknologi, ramah lingkungan, desain serta warna yang menarik, user friendly, kualitas yang sudah pasti terjamin. Dengan kemudahan itu, aku nggak perlu lagi repot-repot membersihkan karpet dengan sapu atau sering membawanya ke laundry.




Mungkin, kalau saat itu suamiku di situ dia akan tertawa terpingkal-pingkal melihat peristiwa itu. Tapi, mungkin juga bisa jadi momen yang baik untuk mengganti seluruh fasillitas rumah menjadi lebih bagus lagi dengan MODENA.

Malamnya, aku ceritakan kejadian itu pada suamiku, sambil menyajikan ‘sisa’ cake gosong tadi. Benar kan, tawanya membahana, seperti akan meruntuhkan atap rumah yang memang kebetulan sedang terjadi insiden pertengkaran antara kucing dan tikus di atas sana, haha.

“ Memang kamu mengkhayal apa sih, Bun ?”

“ Ya, bukan menghayal juga, sih ! Aku lagi bermimpi menggunakan peralatan itu, Yah, terlihat elegan, nyaman dan jauh dari kecelakaan kerja, kegagalan membuat kue, dan lain-lain, deh !"

“ Emang, kaya apa, sih ?” kelihatannya suamiku ikut penasaran mendengar ceritaku yang mungkin seru menurutnya, karena sampai membuatku ngelindur.

Kuambil laptop, buka Fb, dan kutunjukan semua gambar produk MODENA di sana. Dia tersenyum lebar.

“ Hmmm… “ katanya dengan santai.

“So ?”

“ Ya, okelah, tenang, ada perencanaan kok untuk beli itu ! Aku sudah tahu, sudah liat” Katanya lagi sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.

“ Asik…alhamdulillah….! Nggak ada cerita cake gosong lagi deh, Yah ! ” senyumku melebar sambil mengecup pipi suamiku yang malam itu terlihat sangat tampan :D

Thanks for MODENA, suatu saat aku akan memilikimu...!



Ayo dong lihat dan pelajari seperti apa sih manfaat produk MODENA ini, bisa dilihat di link di bawah ini loh, pasti pengin deh... :



www.modena.co.id

www.facebook.com/ModenaIndonesia

www.facebook.com/MODENACookingClub

www.flickr.com/photos/modenaindonesia

www.youtube.com/MODENAIndonesia

www.pinterest.com

Tulisan ini terpilih sebagai pemenang hiburan di kompetisi blog Modena.

www.twitter.com/@MODENAIndonesia