Kamis, 29 November 2012
Mimpiku Bersama Modena
“ Capek deh… ! Cuma manggang brownies aja, nunggunya seabad…!”
Saat membuat sponge cake, “ Liat tuh, Yah, ditusuk-tusuk belum matang juga, masih lembek bagian dalamnya, ih, bikin bete…!” Keluhku sambil manyun, suami hanya bisa tertawa kecil menyaksikan gerutuanku.
“ Ya ampun, macaroni panggang ini, kok yang bawah gosong, yang atas masih kelihatan mentah, ya?”
Dan, selalu saja begitu. Komplain tidak pernah reda dari si oven tangkring hitam pekat ini. Mungkin kalau oven itu bisa bicara, dia juga akan protes, “siapa suruh lu pakai gue, hah!”
Dulu, awal-awal aku memiliki oven tangkring ini tidak lepas dari kesukaanku membuat berbagai macam camilan. Dari pada beli terus camilannya, kan pastinya lebih boros, dan tidak semua makanan yang aku beli terjamin kebersihan, juga gizinya. Jadi, demi rasa sayang terhadap kantong dan tubuh, jadi deh, aku rencanakan beli oven itu. Yang awal aku beli adalah mixer, timbangan dan beberapa loyang yang aku butuhkan.
Namun, saat oven belum sempat terbeli, aku mendapat kabar bahwa ayahku, di Jakarta, terkena serangan stroke mendadak. Alhasil, aku dan suami yang saat itu masih sepuluh bulan menjadi pengantin, dan berdomisili di Solo, langsung berangkat ke Jakarta.
Menjenguk dan menunggu ayah yang sakit selama tiga minggu justru membawa rezeki tersendiri buatku, yaitu dapat peralatan masak gratis. Ceritanya, aku iseng ngomong ke Ibu, kalau aku mulai senang membuat kue-kue, dari situ, Ibu justru menawarkan aku untuk memboyong semua peralatan masaknya, dari mulai cetakan, mixer, timbangan, dan lain-lain, termasuk juga oven tangkring itu. Belum lagi ditambah satu set keramik yang bagus dan bikin ngiler. Senang ? Pastinya lah…siapa juga yang nggak senang dapat barang gratisan, hehe.
Memang sih, sebagian dari peralatan itu sudah aku miliki, tapi, aku tetap saja memilih yang punya Ibu, karena dari segi merk lebih bagus dari yang aku punya. Punyaku ? Ya, dari pada mubazir, jadi sebagian aku jual lagi, lumayan, masuk kantong lagi :D
Nah, itu cerita awal saat aku punya oven tangkring, manis sekali, warnanya hitam pekat. Tapi, menjadi tidak manis setelah tahu cara kerja si oven ini. Ternyata, warna hitamnya itu lah yang membuat penyebaran panas api di kompor tidak merata, jadi lama…sekali proses masaknya, dan aku merasa, setiap kali aku memasak dengan oven itu semakin membuang-buang waktu, buang gas elpiji, dan bikin makan ati, sebel…!
Tapi, karena yang kupunya baru itu, ya, terpaksa aku harus menikmatinya.
Pernah satu waktu aku kembali membuat sponge cake karena penasaran dengan hasilnya. Harapanku sponge cake kali ini bisa lebih empuk dan berongga, tidak terlalu coklat, tidak bergelembung bagian atasnya, atau matang di bawah, mentah di dalam.
Setelah proses pengocokan, seperti biasa, masuk lah adonan itu ke dalam oven tangkring. Nah, saat pemanggangan yang biasanya lama sekali ( oven jadul ), dan demi mencegah kebosanan aku bolak balik mantengin FB (facebook).
Saat aku mencari-cari sesuatu yang bisa menyegarkan pandangan, ada seorang teman yang meng-upload link sebuah gambar dapur bersih dengan peralatan masak yang keren, high quality, dan mewah. Mataku langsung melotot melihat barang bagus. Aku perhatikan setiap detailnya, mulai dari kompor tanam, oven, microwave, cooker hood, ah, indah banget….!
Saat aku klik gambarnya, langsung diarahkan untuk melihat beberapa desain dapur yang menawan, cantik, elegan dan wah itu.
Dunia imajinasiku mulai bekerja. Membayangkan dapur indah dengan peralatan lengkap ini akan aku gunakan setiap hari. Tapi, rasanya untuk rumahku yang tergolong mungil, desain seperti ini tidak cocok. Mulai lah aku berselancar mengamati satu demi satu desain untuk dapur mungilku. Nah, ini dia, aku dapat !
Setelah kuperhatikan setiap detail produknya dan tulisan yang tertera di sana, ooo, ternyata produk MODENA. Tatapan mata yang tidak ingin beralih dari layar laptop, mulai mengetikkan kata kunci di mesin pencari, MODENA. Dalam sekejap berbagai link yang terhubung kesana terlihat, kuklik satu link yang mengarah ke sebuah fans page di FB.
Oh, ini ya produk MODENA. Pas sekali. Produk yang hadir di Indonesia sejak 1981, menunjang gaya hidup modern masyarakat Indonesia dalam 3 lini kategori, yaitu Cooking, cleaning, cooling, yang menekankan pada aspek estetika desain, kaya akan fitur yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pengguna (user friendly), penerapan teknologi terkini serta ramah lingkungan. Solusi cerdas dalam menciptakan smart living , menciptakan kualitas hidup yang lebih baik dan direkomendasikan bagi masyarakat Indonesia.
Setelah puas melihat-lihat, kembali kuamati desain dapur mungil tadi, rasanya masih belum terbayang jika belum dijadikan satu dengan perabot dapur yang lain. Karena rasa penasaran, aku mulai membaca Fans Page MODENA di FB, dapat juga nih desain dapur mungilnya.
Setelah puas mengamati, mulailah aku mengembarakan fikiranku. Kupejamkan mata untuk membayangkan rasanya saat aku berada disana, menggunakan produk tersebut. Fikiranku mulai berkelana, aku pun terlelap dalam buaian rangkaian produk Modena yang sempat kulihat tadi.
Aku mulai beraksi di dapur, pertama, aku mulai dengan membuat roti sandwich yang susah-susah gampang. Repot juga karena melibatkan banyak bahan makanan mentah dan matang yang akan dipakai. Namun, dengan hadirnya toaster MODENA, membuat sandwich tidak perlu susah lagi, palagi bisa langsung memasak telur sekalian, semakin memudahkan...
Kegiatan selanjutnya adalah membuat pizza dengan cepet. Aku pakai Buit-in Oven nya MODENA. Soalnya selain gampang dan cepet, matangnya juga merata karena panas atas bawah yang bisa dinyalakan bersamaan, bahkan ada elemen panas juga di bagian belakang.
Pizzaku jadiii!
Waktunya bikin sponge cake ! Ya, menikmati peralatan bagus dengan membuat makanan sebanyak mungkin, lalu mengajak tetangga dan kerabat untuk makan bersama, hehe.
Aku awali dengan menyiapkan bahan-bahan kue, peralatan, lalu menakarnya, mengaduknya. setelah adonan siap, kubuka pintu oven, lalu memanggangnya didalam BO White Series. Fitur Chrome Shelves Railing pada BO White Series artinya rel raknya BO dibuat dari bahan chrome steel yang tahan panas, nggak gampang terkelupas dan tahan karat.
Saat pemanggangan, ditulis di resep, waktu panggang 20 menit. Jadi, timernya pun bisa diatur sesuai resep, tanpa harus kelebihan waktu yang bisa mengakibatkan kegosongan.
Sambil memanggang, aku masih bisa juga menggunakan kompor tanam Crista White Series, yang elegan dan penuh nuansa kekinian.
Taraaa, tepat 20 menit dengan suhu 180 derajat celcius, sponge cake sudah siap…! Yummy…!
Ya, pasti deh waktu panggangnya bisa akurat, pas, juga suhu yang diinginkan bisa diatur sesuai aturan resep, jadi, kemungkinan terjadi kegagalan itu sangat minim sekali.
Aku mulai menyiapkan piring, menunggu kue dingin, lalu dihias dengan butter cream, lelehan coklat atau fondan.
Kuratakan butter tersebut keatas kue yang sudah dingin dengan perlahan-lahan. Oh, iya, buah strawbery dan hiasan lainnya ada di kulkas. Kubuka kulkas, mengambil hiasan untuk kue. Buah yang ditaruh di kulkas masih bagus, tetap segar dan tidak merusak penampilannya. Sambil mengambil strawbery, selai, keju, aku juga menikmati minuman dingin yang terdapat di dalamnya. Nikmat sekali…!
Kulkas MODENA type ini, Niveo RF 2565 pas sekali untuk konsep dapur yang aku inginkan. Kapasitas kulkas yang besar, dan kualitas yang bagus, pasti akan sangat bermanfaat untuk keluargaku.
Saat sedang menikmati kesegaran minuman dan menghias kue tadi, aku dikejutkan oleh bau-bauan yang kurang enak. Mimpi indahku terlepas, dengan tergesa-gesa, aku berdiri. Indra penciumanku yang sensitif mengajakku segera berlari menuju sumber bau tadi. Masuk ke dapur, memeriksa oven tangkringku, mengeluarkan kue, lalu berteriak,
“ Kueku gosongggg…..!”
Aku cuma bisa pasrah tak berdaya. Segera kumatikan kompor, dan meratapi kue gosong itu. Membuka pintu oven perlahan, sehingga kurasakan uap panas menjalari wajah dan tanganku. Sekelebat, kubayangkan cooker hood dari MODENA, desain yang elegan dan simple, pasti tidak sepengap dan sepanas ini jika dapurku juga menggunakan produk tersebut, karena panas yang dihasilkan dari oven akan langsung terserap sempurna ke dalam cooker hood.
Kutaruh kue gosong itu ke atas meja. Saat masih dalam loyang, kupotong perlahan, huf, bagian dalamnya belum terlalu kering. Antara kecewa dengan penampakan kue, juga masih tersisa ruang bahagia karena aku sempat tertidur dan bermimpi bersama MODENA.
Brakkk!!! Glodaak! Brukkk!
Kembali aku terkejut. Ketika momen itulah sponge cake gosong itu tersenggol tanganku dan akhirnya jatuh kelantai berkarpet dalam posisi loyang miring. Sebagian kue remuk di dalamnya, serpihannya yang gosong mengotori karpet.
Ingin rasanya aku menangis yang keras. Sudah kuenya gosong, jatuh, hancur pula karena suara kucing diatas eternit rumah tadi. Kuambil sisa kue yang masih ‘agak’ utuh, untuk sekedar menunjukan ke suami, kalau aku habis bikin kue, walau gagal. Kutinggalkan kue itu diatas meja.
Saat membersihkan karpet dengan sapu lidi dan sulak, aku kembali memutar memori tentang peralatan MODENA yang kulihat sebelumnya, salah satunya ada yang dikhususkan untuk membersihkan karpet, yaitu vacuum cleaner VC 2003, ia memiliki keunggulan teknologi, ramah lingkungan, desain serta warna yang menarik, user friendly, kualitas yang sudah pasti terjamin. Dengan kemudahan itu, aku nggak perlu lagi repot-repot membersihkan karpet dengan sapu atau sering membawanya ke laundry.
Mungkin, kalau saat itu suamiku di situ dia akan tertawa terpingkal-pingkal melihat peristiwa itu. Tapi, mungkin juga bisa jadi momen yang baik untuk mengganti seluruh fasillitas rumah menjadi lebih bagus lagi dengan MODENA.
Malamnya, aku ceritakan kejadian itu pada suamiku, sambil menyajikan ‘sisa’ cake gosong tadi. Benar kan, tawanya membahana, seperti akan meruntuhkan atap rumah yang memang kebetulan sedang terjadi insiden pertengkaran antara kucing dan tikus di atas sana, haha.
“ Memang kamu mengkhayal apa sih, Bun ?”
“ Ya, bukan menghayal juga, sih ! Aku lagi bermimpi menggunakan peralatan itu, Yah, terlihat elegan, nyaman dan jauh dari kecelakaan kerja, kegagalan membuat kue, dan lain-lain, deh !"
“ Emang, kaya apa, sih ?” kelihatannya suamiku ikut penasaran mendengar ceritaku yang mungkin seru menurutnya, karena sampai membuatku ngelindur.
Kuambil laptop, buka Fb, dan kutunjukan semua gambar produk MODENA di sana. Dia tersenyum lebar.
“ Hmmm… “ katanya dengan santai.
“So ?”
“ Ya, okelah, tenang, ada perencanaan kok untuk beli itu ! Aku sudah tahu, sudah liat” Katanya lagi sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
“ Asik…alhamdulillah….! Nggak ada cerita cake gosong lagi deh, Yah ! ” senyumku melebar sambil mengecup pipi suamiku yang malam itu terlihat sangat tampan :D
Thanks for MODENA, suatu saat aku akan memilikimu...!
Ayo dong lihat dan pelajari seperti apa sih manfaat produk MODENA ini, bisa dilihat di link di bawah ini loh, pasti pengin deh... :
www.modena.co.id
www.facebook.com/ModenaIndonesia
www.facebook.com/MODENACookingClub
www.flickr.com/photos/modenaindonesia
www.youtube.com/MODENAIndonesia
www.pinterest.com
Tulisan ini terpilih sebagai pemenang hiburan di kompetisi blog Modena.
www.twitter.com/@MODENAIndonesia
Selasa, 20 November 2012
Menjadi Bunda Digital Dari Rumah
Manajer Rumah Tangga yang Sok Sibuk
“Bunda…aku mau makan, ya? Aku mau minta ini ! Tolong ambilin itu, Bunda !”
Ya, saya adalah seorang ibu dari seorang putri yang cantik, yang kini sedang berada dalam masa-masa keemasan di lima tahun pertama usianya. Saya dan suami memang telah bersepakat untuk mengurus buah hati dengan tangan kami sendiri, terutama saya, ibunya. Konsekuensi dari kesepakatan itu adalah saya harus mengesampingkan ego saya sebagai seorang wanita yang terbiasa mencari nafkah sendiri sebelum menikah. Saya harus berhenti bekerja, dan fokus mengurus anak saya. Jika ada teman yang bertanya tentang aktifitas saya, dengan lugas saya berkata, saya adalah manajer rumah tangga.
Dulu, diawal-awal masa kelahiran Maza, sangat mudah bagi saya untuk tetap terus berada di rumah, meladeni kebutuhan Maza dan suami. Jikalau bosan, saya lebih memilih mengajak suami berjalan-jalan, membeli buku-buku bacaan, dan membaca dengan cepat sampai habis, juga bermain game di komputer.
Jumat, 02 November 2012
Warna-warni Pelangi (Artikel Anak)
Pelangi-pelangi, alangkah indahmu
Merah kuning hijau, di langit yang biru
Pelukismu agung, siapa gerangan ?
Pelangi, pelangi
Ciptaan Tuhan.
Sahabat, ayo tebak, lagu di atas apa ya judulnya ? Dan, siapa penciptanya ? Pasti sahabat cerdas tahu dong, ya ?!
Ya ! Betul sekali, lagu diatas berjudul “Pelangi” yang diciptakan oleh Bapak AT.Mahmud. Kabarnya, Bapak ini terinspirasi dari sebuah kejadian saat beliau bersama anaknya yang masih bersekolah di Taman Kanak-kanak. Saat itu, di perjalanan pulang, sang anak melihat sesuatu, dan berseru “ pelangi!” sambil menunjuk ke langit. Dan, di waktu yang sama pula Bapak AT. Mahmud langsung membuat lagu tersebut. Keren kan, sahabat ? Tapi, yang mau dibicarakan kali ini bukan tentang lagunya, loh ! Namun, yang akan dibahas adalah tentang pelangi itu sendiri.
Pelangi itu sebenarnya apa, sih ?
Kalau kita lihat secara kasat mata, bentuk pelangi seperti busur, dan memiliki warna yang sangat indah. Warna yang biasa kita lihat yaitu, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Pelangi bisa muncul karena ada pembiasan cahaya dari sinar matahari saat hujan terjadi.
Sahabat pasti ada yang bertanya, kira-kira di mana ya pelangi bisa terlihat?
Pelangi dengan tujuh lapis warna yang indah itu, biasanya terlihat saat langit mendung, saat hujan baru berhenti turun dan sering terlihat pula di daerah dataran tinggi seperti pegunungan.
Rabu, 17 Oktober 2012
Latihan Disiplin Untuk Maza
Melatih kedisiplinan untuk anak balita butuh konsistensi yang maksimal, tidak main-main. Beberapa kali saya dihadapkan pada situasi yang tidak mudah menghadapi balita saya. Ketidakmudahannya terletak pada, tidak tahannya saya mendengar tangisannya (balita usia 4, 5 tahun).
Saya sudah menerapkan aturan jauh-jauh hari tentang suatu hal, dalam kasus ini adalah masalah BAK (buang air kecil) dan BAB (buang air besar) yang tidak pada tempatnya, yaitu di celana. Bukan, bukan karena kami sedang bepergian atau sedang di jalan, dan tidak mendapati tempat untuk membuang hajat tersebut. Namun, lebih karena ia malas pulang saat sedang bermain. Jadi, ia lebih memilih membuangnya langsung di celana, yang tentu sangat mengganggu aktifitas dirinya bermain dan juga, aktifitas saya (tambah banyak kerjaan boo!). Mungkin, jika ia belum terbiasa melakukan itu ( buang hajat sembarangan), itu bukan masalah untuk saya. Tapi, karena hal tersebut sudah terbiasa pada tempatnya, nah, itulah yang jadi masalah buat saya.
Ceritanya, menjelang maghrib Maza minta main. Saya izinkan, asal, saat adzan maghrib dia masih tetap di rumah, solat maghrib bersama saya hingga selesai (walau solatnya masih main-main, tapi ini sarana latihan). Peraturan maghrib harus di rumah sudah saya terapkan sejak ia berusia 2 tahunan, saat ia mulai mengerti main bersama temannya. Itu aturan baku, tidak bisa diganggu gugat, dan alhamdulillah, saya dan suami bisa konsisten.
Ia taati aturan itu. Setelah selesai sholat, ia pun harus menunggu ayahnya pulang dari masjid, baru ia boleh keluar untuk main. Biasanya, ia sabar menunggu hingga ayahnya pulang, namun, karena kali ini ayahnya masih ada pekerjaan di kantor, jadi, patokannya adalah bapak tetangga yang ke masjid, apakah mereka sudah pulang atau belum, hehe.
Selama menunggu, ia masih membantu saya melemaskan badan dengan cara diinjak-injaknya bagian punggung. Saya tengkurap dan ia berdiri diatas punggung saya sambil berjalan perlahan. Sekitar lima menit, ia sudah tidak tahan untuk main, langsung berlari, menuju pintu, dan keluarlah ia.
Tidak sampai lima menit, ia berlari pulang ke rumah, tergopoh-gopoh ia minta pup (BAB), dengan tubuh digoyang-goyangkan, seakan sudah tidak bisa menahannya. Ia berusaha melepas celananya sendiri, tapi, karena mungkin sudah tidak bisa ditahan, ia perlu bantuan saya juga. Dan, nyatanya, kotoran itu sudah menjelajahi celana dalamnya, bahkan, (maaf), sudah menjatuhi lantai kamar mandi.
Ah, itu yang saya tidak suka, bukan sekali dua kali ia berlaku seperti itu. Dan, biasanya, saat hal-hal seperti itu terjadi, saya hanya membuat peraturan yang selintas lalu, seperti “ kalau Mba Maza pipis, pup di celana kaya gini, Bunda nggak bolehin main !” cukup, hanya sebuah gertakan, dan ia menolak sambil menangis sedikit, “emoh..!”
Tapi, sepertinya kali ini merupakan titik kulminasi, dimana peraturan itu benar-benar harus ia taati. Jadi, sambil mengomel, saya minta Maza untuk tidak main. Tentu saja ia nangis sekeras mungkin. Mungkin, ia fikir, seperti biasanya, itu hanya gertak sambal, agar saya luluh. Tapi, tidak untuk kali itu, saya harus benar-benar tegas, agar ia bisa belajar mengambil konsekuensi atas pilihannya itu.
Saya katakan “ Bunda bilang, kalau mba Maza pipis atau pup di celana, nggak boleh main. Kalau masih pengin main, terserah ! Tapi, nggak usah pulang”, kata saya dengan tegas.
Ia terus meraung, berusaha menolak. Dan, sebagai ibu, saya juga merasakan kesedihan yang sama. Tidak mengizinkan anak bermain di luar, sering menjadi suatu momok buat saya pribadi sejak anak saya di sekolahkan di sekolah full day. Terus menangis, menghentak-hentakan tubuhnya di lantai, dan atraksi lainnya yang menunjukan protesnya atas peraturan yang saya buat.
“ Sekarang Mba Maza pilih, main di rumah atau main di luar ? Kalau main di luar, nggak usah pulang !”
“ Aku mau main di luar, tapi pulang !” katanya dengan menyayat. Cerdas ! kata saya dalam hati, tapi saya harus kuat.
“ Nggak ada main di luar. Bunda kemarin sudah bilang, kalau pipis atau pup di celana, berarti nggak boleh main di luar. Besok-besok kalau mba Maza kaya gitu lagi, ya nggak boleh main lagi.”
Ia mulai berontak, menangis sejadi-jadinya, dan akhirnya saya membentaknya, ia langsung sesunggukan, berusaha memberhentikan tangisnya. Saya ikuti gerakan menangisnya.
“ Nih liat, Bunda juga bisa nendang-nendang ! Kalau Mba Maza kaya gitu, Bunda malah marah beneran ! Mau Bunda marah ?” volume saya meninggi, ia pun menggeleng lemah. Di sela-sela itu, ayahnya pulang. Ia menangis lagi dengan semakin keras, mungkin maksudnya mengadukan Bundanya yang tidak mengizinkannya bermain. Tapi, saya sudah tahu, ayahnya pun punya peraturan yang sama, tidak ada main saat ia melakukan hal tersebut. Keras ya ? memang. Saya dan suami tahu, ia sangat suka bermain. Jadi, rasanya pas sekali melakukan punishment tersebut untuk memberhentikan kebiasaan buruk itu.
Sadar tidak ada yang membantu, tangisnya mereda lagi. Volume suara saya juga mulai merendah. Saat isakannya mulai melemah, saya mulai memasukan pesan-pesan mutiara. Perlahan, saya pangku ia, dibelai rambutnya, dan diajak bercakap-cakap. Setelahnya, saya minta ia mengulang pesan yang sebelumnya saya sampaikan.
Ia utarakan sedikit demi sedikit masih sambil terisak, katanya, “ Aku nggak ulangin lagi (pup) di celana lagi, nanti aku nggak boleh main...” bagus ! dalam hati saya tersenyum.
“Maza janji ya ? enak nggak kalau nggak main di luar ?” ia menggelang lemah.
“Besok gitu lagi ?” ia menggeleng lagi.
“ Ya, sini, maafin Bunda ya ? Ini buat mba Maza juga. Bunda cium ya anak pinter...” Ia mengangguk, sambil memberikan ujung dahinya untuk saya cium. Saya berikan ia ciuman dan doa yang banyak dengan suara yang bisa ia dengar. Seketika itu isaknya berhenti, senyumnya merekah, dan ia siap menerima konsekuensi perbuatannya itu dengan lapang dada.
Perasaan saya mengatakan bahwa ia mulai memahami peraturan yang telah ditetapkan dalam kasus seperti ini. Tidak hanya gertak sambal lagi, tapi sudah menuju peraturan baku. Semoga saya, suami dan Maza bisa menerapkannya dengan baik di kemudian hari. Semoga Allah memudahkan segala kebaikan yang harus terus diupayakan dalam mendidik anak kami, walau itu butuh perjuangan keras, aamiin.
*senin, 8 oktober 2012
Lauk Bebek VS Mulut Bebek
“ Wah, mba Sarah makannya sambil jalan-jalan ya ?” sapa seorang tetangga pada ibu yang tengah menyuapi anaknya di sore yang begitu cerah.
“ Iya nih, maunya jalan-jalan aja, sampai capek saya…” Ibu itu sedikit mengeluh, sambil memanggil anaknya untuk disuapkannya nasi dengan lauk yang lumayan enak.
Aku yang kebetulan sedang berada di sana sebelum ibu yang nyuapin anak itu datang ikut tersenyum.
“ Hm, mba Sarah kayanya senang makan bebek ya?” kali kedua ibu itu memerhatikan lauk yang berada di dalam mangkuk yang dibawa Ibu yang mengikuti anaknya untuk makan.
“ Iya, ini senangnya makan bebek…” katanya tertahan, merendah, mengulurkan senyum yang setengah dipaksa. Hm, lauk bebek, tepatnya mungkin kepala bebek beserta lehernya yang panjang.
“ Kalau beli bebek di sana loh bu, murah…bla..bla, bla” pembicaraan itu terus mengalir, hanya dari sebuah kata ‘bebek’. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Mungkin bukan seperti senyuman sapaan ataupun senyuman permakluman, juga bukan seyuman penghinaan. Lebih tepatnya senyuman aneh ketika mendengar jawaban seorang ibu yang terlalu hiperbola menurutku. Bagaimana tidak, aku cukup tahu tentang kondisi Ibu tersebut, tentang seberapa seringnya ia mengonsumsi makanan yang terbilang mewah tersebut, bahkan jumlah uang belanjanya setiap hari, bisa dibilang aku cukup mengetahuinya.
Mungkin ada yang berfikir, aku kurang kerjaan, atau timbul pertanyaan, apakah aku satpam atau mandornya ya, kok sampai tahu sejauh itu tentang kehidupan si Ibu bahkan tahu sedetail mungkin tentang keluarganya ? Sungguh, bukan seperti itu. Aku tidak ingin bahkan berniat mencari tahu informasi secuil apapun tentang diri dan keluarganya. Justru aku tahu tentang kehidupannya melalui cerita-ceritanya yang mengalir bak air bah yang begitu besar. Dari kejadian demi kejadian, aku mampu mengenal karakternya lewat cerita yang sering dia utarakan, walau terkadang hanya cerita ringan.
Ada dua hal yang aku tangkap dalam komunikasi yang dilakukan antara dua tetanggaku,.
Yang pertama, yaitu, kalimat yang terlalu hiperbola dan yang kedua adalah, penghargaan terhadap diri sendiri yang begitu besar. Kalimat yang terlalu hiperbola jelas sangat mengganggu telingaku, karena aku memahami kondisi si Ibu, tentang dan bagaimana ia menegelola keuangan rumah tangga yang bisa dibilang masih di bawah rata-rata. Seakan-akan, kalimat yang dikatakannya tentang makanan apa yang paling sering ia konsumsi, ia menjustifikasi, bahwa, bebek adalah konsumsi favorit keluarganya, minimal seminggu sekali, ia dan keluarga mengonsumsi hewan yang kabarnya cukup menjanjikan untuk lahan bisnis itu. Hiperbola dalam arti bahasa berarti sesuatu kalimat atau perumpamaan yang terlalu berlebihan. Menurut kacamataku, apa yang dikatakan Ibu itu sangatlah berlebihan. Menyebutkan suatu hal yang tidak bisa ia lakukan, tapi seolah-olah menjadi suatu kebiasaan. Dalam hal ini, masalah lauk bebek yang bukan merupakan barang mewah untuk konsumsi keluarganya.
Hal kedua adalah penghargaan terhadap dirinya yang begitu besar. Sebenarnya, itu adalah hal positif yang bisa menumbuhkan percaya diri seseorang karena merasa bahwa dirinya mampu melakukan itu, dalam permasalahan ini adalah, mampu membeli lauk bebek. Kalaupun sekali-kali suaminya sanggup membelikan lauk bebek yang hanya kepalanya saja, namun, bukan berarti penghargaan itu harus terus dilakukan untuk menunjukan betapa mampunya ia membeli bebek. Karena hal tersebutlah, hatiku menjadi gerah, ingin memanfaatkan moment untuk mempertanyakan sejauh mana sih kemampuan ia dan suaminya membeli bebek. Tapi, aku urung. Untuk apa, toh itu hanya akan menjadi masalah. Dan aku sendiri pun tidak tahu atas tujuan apa ibu tetanggaku menanyakan hal remeh seperti itu. Entah untuk berbasa-basi atau memang hanya sekedar nada sindiran karena tidak sekali dua kali tetangga yang memakan lauk bebek tersebut meninggikan kalimat-kalimatnya dengan presentasi yang begitu memikat.
Dari hal tersebut, aku berkaca pada diriku sendiri. Pernahkah aku melakukan sesuatu yang mungkin aku merasa itu bukanlah suatu kesalahan. Namun, belum tentu dalam pandangan oranglain itu adalah suatu hal yang biasa saja. Bisa saja, oranglain merasa eneg atau sebal melihat pembicaraan dan sikap kita berlebih-lebihan, apalagi bila mereka tahu tentang bagaimana keseharian kita.
“ Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, karena ia akan berteman dengan syetan di neraka.”
Dengan kejadian ini aku merasa harus lebih introspeksi diri untuk selalu menjaga kondisi hatiku agar tidak menimbulkan konotasi buruk bagi orang lain yang kerap bersinggungan dengan kehidupan sehari-hariku.
Wallahu a’lam
“ Iya nih, maunya jalan-jalan aja, sampai capek saya…” Ibu itu sedikit mengeluh, sambil memanggil anaknya untuk disuapkannya nasi dengan lauk yang lumayan enak.
Aku yang kebetulan sedang berada di sana sebelum ibu yang nyuapin anak itu datang ikut tersenyum.
“ Hm, mba Sarah kayanya senang makan bebek ya?” kali kedua ibu itu memerhatikan lauk yang berada di dalam mangkuk yang dibawa Ibu yang mengikuti anaknya untuk makan.
“ Iya, ini senangnya makan bebek…” katanya tertahan, merendah, mengulurkan senyum yang setengah dipaksa. Hm, lauk bebek, tepatnya mungkin kepala bebek beserta lehernya yang panjang.
“ Kalau beli bebek di sana loh bu, murah…bla..bla, bla” pembicaraan itu terus mengalir, hanya dari sebuah kata ‘bebek’. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Mungkin bukan seperti senyuman sapaan ataupun senyuman permakluman, juga bukan seyuman penghinaan. Lebih tepatnya senyuman aneh ketika mendengar jawaban seorang ibu yang terlalu hiperbola menurutku. Bagaimana tidak, aku cukup tahu tentang kondisi Ibu tersebut, tentang seberapa seringnya ia mengonsumsi makanan yang terbilang mewah tersebut, bahkan jumlah uang belanjanya setiap hari, bisa dibilang aku cukup mengetahuinya.
Mungkin ada yang berfikir, aku kurang kerjaan, atau timbul pertanyaan, apakah aku satpam atau mandornya ya, kok sampai tahu sejauh itu tentang kehidupan si Ibu bahkan tahu sedetail mungkin tentang keluarganya ? Sungguh, bukan seperti itu. Aku tidak ingin bahkan berniat mencari tahu informasi secuil apapun tentang diri dan keluarganya. Justru aku tahu tentang kehidupannya melalui cerita-ceritanya yang mengalir bak air bah yang begitu besar. Dari kejadian demi kejadian, aku mampu mengenal karakternya lewat cerita yang sering dia utarakan, walau terkadang hanya cerita ringan.
Ada dua hal yang aku tangkap dalam komunikasi yang dilakukan antara dua tetanggaku,.
Yang pertama, yaitu, kalimat yang terlalu hiperbola dan yang kedua adalah, penghargaan terhadap diri sendiri yang begitu besar. Kalimat yang terlalu hiperbola jelas sangat mengganggu telingaku, karena aku memahami kondisi si Ibu, tentang dan bagaimana ia menegelola keuangan rumah tangga yang bisa dibilang masih di bawah rata-rata. Seakan-akan, kalimat yang dikatakannya tentang makanan apa yang paling sering ia konsumsi, ia menjustifikasi, bahwa, bebek adalah konsumsi favorit keluarganya, minimal seminggu sekali, ia dan keluarga mengonsumsi hewan yang kabarnya cukup menjanjikan untuk lahan bisnis itu. Hiperbola dalam arti bahasa berarti sesuatu kalimat atau perumpamaan yang terlalu berlebihan. Menurut kacamataku, apa yang dikatakan Ibu itu sangatlah berlebihan. Menyebutkan suatu hal yang tidak bisa ia lakukan, tapi seolah-olah menjadi suatu kebiasaan. Dalam hal ini, masalah lauk bebek yang bukan merupakan barang mewah untuk konsumsi keluarganya.
Hal kedua adalah penghargaan terhadap dirinya yang begitu besar. Sebenarnya, itu adalah hal positif yang bisa menumbuhkan percaya diri seseorang karena merasa bahwa dirinya mampu melakukan itu, dalam permasalahan ini adalah, mampu membeli lauk bebek. Kalaupun sekali-kali suaminya sanggup membelikan lauk bebek yang hanya kepalanya saja, namun, bukan berarti penghargaan itu harus terus dilakukan untuk menunjukan betapa mampunya ia membeli bebek. Karena hal tersebutlah, hatiku menjadi gerah, ingin memanfaatkan moment untuk mempertanyakan sejauh mana sih kemampuan ia dan suaminya membeli bebek. Tapi, aku urung. Untuk apa, toh itu hanya akan menjadi masalah. Dan aku sendiri pun tidak tahu atas tujuan apa ibu tetanggaku menanyakan hal remeh seperti itu. Entah untuk berbasa-basi atau memang hanya sekedar nada sindiran karena tidak sekali dua kali tetangga yang memakan lauk bebek tersebut meninggikan kalimat-kalimatnya dengan presentasi yang begitu memikat.
Dari hal tersebut, aku berkaca pada diriku sendiri. Pernahkah aku melakukan sesuatu yang mungkin aku merasa itu bukanlah suatu kesalahan. Namun, belum tentu dalam pandangan oranglain itu adalah suatu hal yang biasa saja. Bisa saja, oranglain merasa eneg atau sebal melihat pembicaraan dan sikap kita berlebih-lebihan, apalagi bila mereka tahu tentang bagaimana keseharian kita.
“ Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, karena ia akan berteman dengan syetan di neraka.”
Dengan kejadian ini aku merasa harus lebih introspeksi diri untuk selalu menjaga kondisi hatiku agar tidak menimbulkan konotasi buruk bagi orang lain yang kerap bersinggungan dengan kehidupan sehari-hariku.
Wallahu a’lam
Tips Bisnis Online
Kegalauan saya sejak beberapa hari kemarin, membuat jari-jari saya tergelitik untuk segera menuntaskannya melalui tulisan, yang mungkin bisa melepaskan sedikit beban yang menggelayuti hati.
Bagi sebagian orang mengatakan bahwa bisnis online itu gampang, kecil, dan sedikit resiko. Dan mereka pun mencoba untuk memulainya dengan sedikit pengetahuan akan dunia antah berantah. Hm, saya katakana dunia antah berantah karena, bagi saya bisnis online itu terlalu luas jangkauannya, jadi, boleh lah saya sebut antah berantah, tidak jelas, karena terlalu luasnya itu.
Sedikit resiko, mungkin itu benar. Namun, bila dikatakan gampang, nyatanya tidak juga. Beberapa tahun pengalaman saya dalam berbisnis online dengan segala macam produk yang saya tawarkan membuat saya merasakan sekali hal-hal apa saja yang sering menghambat dan memudahkan saya dalam menjual produk secara online.
Dalam memasarkan produk di awal-awal saya memulainya ternyata jauh diluar perkiraan saya. Respon pasar tidak terlalu menggembirakan, padahal, hampir setiap hari saya mencoba memajang produk saya di beranda, atau memberikan link-link produk saya pada suatu komunitas, atau bahkan saya mencoba iklan dibeberapa tempat yang terbilang gratisan. Kalau dilihat secara kasat mata, apa yang kurang dari produk saya ? Terkenal, iya. Kualitas bagus, juga iya, harga ? ya,memang sedikit mahal, tapi sebanding lah dengan kualitasnya.
Beberapa bulan saya sempat berhenti memasarkan produk secara online, saya mulai jenuh dengan pangsa pasar yang terbilang sedikit, dan tidak memberi saya kepastian, apakah ia tertarik atau tidak dengan produk yang saya jual.
Bulan demi bulan berlalu, walau saya tidak lagi gencar memromosikan produk, saya tetap menjadi silent reader untuk komunitas bisnis online dan orang-orang yang memiliki online shop yang ramai pengunjung. Saya coba pelajari secara autodidak, perlahan tapi pasti. Dan, ketika ada moment yang sangat pas untuk memulai kembali menggencarkan promosi produk saya.
Masih dengan ciri khas produk yang saya tawarkan, unik, mengedukasi dan harga yang nyaman dikantong dengan kualitas bagus, saya coba memulai kembali. Dan kebetulan, untuk produksinya, saya mengandalkan orang yang lebih memahami dunia produk yang akan saya gol kan. Saya coba memakai strategi berdagang yang lain, yang tidak hanya melulu membagikan, memajang produk, tapi cara lain yang lebih mendekati konsumen, dan membuat konsumen yakin untuk membeli produk saya.
Hasilnya ? sudah bisa ditebak, laris. Oh, ternyata, inilah passionku, jiwa dagangku mulai terlatih dengan beberapa kali kesalahan dan beberapa kali trial and error.
Dan, ternyata, untuk menjual produk secara online, tidak melulu barang bagus yang membuatnya laku, setidaknya itulah yang saya rasakan selama mencoba peruntungan tersebut.
Ini yang menjadi faktor penentu produk yang kita jual agar bisa laris (jualan via facebook ya...):
1. Kepercayaan
Inilah poin pertama yang saya tekankan, karena modal inilah, walau barang yang kita jual masih pasaran, atau biasa saja, dengan faktor kepercayaan (brand penjual), konsumen akan tertarik membeli. Dan, faktor kepercayaan ini tidak begitu saja terjalin, hanya karena, misal, penampilan foto penjual islami / sopan. Tetapi, membutuhkan beberapa waktu untuk menanamkan dalam hati pembeli, bahwa penjual itu terpercaya. Atau, kalau misalnya kita punya teman / link yang dekat dengan kita dan calon pembeli itu juga merupakan teman dari link kita, ia bisa memperkirakan sejauh mana kebenaran online shop itu dalam menjual produknya.
2. Produk
Ini saya masukkan poin kedua, karena produk adalah senjata yang ampuh untuk menjaring pelanggan. Dengan produk yang unik, dan segala kelebihan lainnya, akan memungkinkan pembeli tertarik, namun, pengalaman saya, tetap saja kembali pada poin pertama diatas, hehe.
3. Keramahan
Menjadi poin ke tiga karena keramahan adalah salah satu hal terpenting untuk meyakinkan pembeli. Menjadi ramah dalam dunia bisnis online bisa dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya adalah, menyapa terlebih dahulu teman-teman lama, mengajaknya bicara, tanpa ujug-ujug menjual, ini bisa dilakukan dilain waktu. Atau bisa dengan mengikuti suatu komunitas, dan kita ikut terjun di dalamnya, dengan posting sesuatu (bukan dagangan loh), memberikan komentar-komentar positif pada setiap status teman baru, atau ikut memberikan solusi jika teman dalam komunitas tersebut sedang terlibat masalah. Intinya, perkenalkan image baik kita dulu, sebelum menjual.
4. Harga jual
Ini juga yang menjadi pertimbangan pembeli, namun, percayalah, ketika pembeli sudah percaya, mengenal penjualnya, mengetahui produknya bagus, harga akan menempati posisi ke sekian, kalau pun di tawar karena misalnya ia tahu di online shop lain dijual harga lebih murah, ia tetap akan sungkan untuk menawar dengan harga yang terlalu jatuh. Dan, tetap akan memilih penjual yang ia “percaya” demi keamanan bertransaksi.
5. Pelayanan
Banyak juga pembeli kecewa dengan pelayanan penjual online shop yang kurang ramah, dan akhirnya memutuskan untuk tidak jadi membeli produknya.
Lima poin dulu yang saya coba berikan, selanjutnya menyusul ya, karena saya pun masih belajar menganalisa pasar dan tentunya kemampuan dalam diri saya sendiri. Semoga bermanfaat.
Salam, dan semangat menjaring konsumen, ya...!
Bagi sebagian orang mengatakan bahwa bisnis online itu gampang, kecil, dan sedikit resiko. Dan mereka pun mencoba untuk memulainya dengan sedikit pengetahuan akan dunia antah berantah. Hm, saya katakana dunia antah berantah karena, bagi saya bisnis online itu terlalu luas jangkauannya, jadi, boleh lah saya sebut antah berantah, tidak jelas, karena terlalu luasnya itu.
Sedikit resiko, mungkin itu benar. Namun, bila dikatakan gampang, nyatanya tidak juga. Beberapa tahun pengalaman saya dalam berbisnis online dengan segala macam produk yang saya tawarkan membuat saya merasakan sekali hal-hal apa saja yang sering menghambat dan memudahkan saya dalam menjual produk secara online.
Dalam memasarkan produk di awal-awal saya memulainya ternyata jauh diluar perkiraan saya. Respon pasar tidak terlalu menggembirakan, padahal, hampir setiap hari saya mencoba memajang produk saya di beranda, atau memberikan link-link produk saya pada suatu komunitas, atau bahkan saya mencoba iklan dibeberapa tempat yang terbilang gratisan. Kalau dilihat secara kasat mata, apa yang kurang dari produk saya ? Terkenal, iya. Kualitas bagus, juga iya, harga ? ya,memang sedikit mahal, tapi sebanding lah dengan kualitasnya.
Beberapa bulan saya sempat berhenti memasarkan produk secara online, saya mulai jenuh dengan pangsa pasar yang terbilang sedikit, dan tidak memberi saya kepastian, apakah ia tertarik atau tidak dengan produk yang saya jual.
Bulan demi bulan berlalu, walau saya tidak lagi gencar memromosikan produk, saya tetap menjadi silent reader untuk komunitas bisnis online dan orang-orang yang memiliki online shop yang ramai pengunjung. Saya coba pelajari secara autodidak, perlahan tapi pasti. Dan, ketika ada moment yang sangat pas untuk memulai kembali menggencarkan promosi produk saya.
Masih dengan ciri khas produk yang saya tawarkan, unik, mengedukasi dan harga yang nyaman dikantong dengan kualitas bagus, saya coba memulai kembali. Dan kebetulan, untuk produksinya, saya mengandalkan orang yang lebih memahami dunia produk yang akan saya gol kan. Saya coba memakai strategi berdagang yang lain, yang tidak hanya melulu membagikan, memajang produk, tapi cara lain yang lebih mendekati konsumen, dan membuat konsumen yakin untuk membeli produk saya.
Hasilnya ? sudah bisa ditebak, laris. Oh, ternyata, inilah passionku, jiwa dagangku mulai terlatih dengan beberapa kali kesalahan dan beberapa kali trial and error.
Dan, ternyata, untuk menjual produk secara online, tidak melulu barang bagus yang membuatnya laku, setidaknya itulah yang saya rasakan selama mencoba peruntungan tersebut.
Ini yang menjadi faktor penentu produk yang kita jual agar bisa laris (jualan via facebook ya...):
1. Kepercayaan
Inilah poin pertama yang saya tekankan, karena modal inilah, walau barang yang kita jual masih pasaran, atau biasa saja, dengan faktor kepercayaan (brand penjual), konsumen akan tertarik membeli. Dan, faktor kepercayaan ini tidak begitu saja terjalin, hanya karena, misal, penampilan foto penjual islami / sopan. Tetapi, membutuhkan beberapa waktu untuk menanamkan dalam hati pembeli, bahwa penjual itu terpercaya. Atau, kalau misalnya kita punya teman / link yang dekat dengan kita dan calon pembeli itu juga merupakan teman dari link kita, ia bisa memperkirakan sejauh mana kebenaran online shop itu dalam menjual produknya.
2. Produk
Ini saya masukkan poin kedua, karena produk adalah senjata yang ampuh untuk menjaring pelanggan. Dengan produk yang unik, dan segala kelebihan lainnya, akan memungkinkan pembeli tertarik, namun, pengalaman saya, tetap saja kembali pada poin pertama diatas, hehe.
3. Keramahan
Menjadi poin ke tiga karena keramahan adalah salah satu hal terpenting untuk meyakinkan pembeli. Menjadi ramah dalam dunia bisnis online bisa dilakukan dengan berbagai cara. Diantaranya adalah, menyapa terlebih dahulu teman-teman lama, mengajaknya bicara, tanpa ujug-ujug menjual, ini bisa dilakukan dilain waktu. Atau bisa dengan mengikuti suatu komunitas, dan kita ikut terjun di dalamnya, dengan posting sesuatu (bukan dagangan loh), memberikan komentar-komentar positif pada setiap status teman baru, atau ikut memberikan solusi jika teman dalam komunitas tersebut sedang terlibat masalah. Intinya, perkenalkan image baik kita dulu, sebelum menjual.
4. Harga jual
Ini juga yang menjadi pertimbangan pembeli, namun, percayalah, ketika pembeli sudah percaya, mengenal penjualnya, mengetahui produknya bagus, harga akan menempati posisi ke sekian, kalau pun di tawar karena misalnya ia tahu di online shop lain dijual harga lebih murah, ia tetap akan sungkan untuk menawar dengan harga yang terlalu jatuh. Dan, tetap akan memilih penjual yang ia “percaya” demi keamanan bertransaksi.
5. Pelayanan
Banyak juga pembeli kecewa dengan pelayanan penjual online shop yang kurang ramah, dan akhirnya memutuskan untuk tidak jadi membeli produknya.
Lima poin dulu yang saya coba berikan, selanjutnya menyusul ya, karena saya pun masih belajar menganalisa pasar dan tentunya kemampuan dalam diri saya sendiri. Semoga bermanfaat.
Salam, dan semangat menjaring konsumen, ya...!
Jumat, 05 Oktober 2012
Takut Sama Suami ?
Beberapa orang pernah menanyakan hal yang sama padaku. Hal yang terkadang membuat sebal, tapi gemas juga kalau nggak dijawab. Hm, apalagi kalau bukan masalah profesi. Profesi yang sempat tabu dikalangan orang-orang yang mengenyam pendidikan hingga ke bangku kuliah. Ya, profesi ibu rumah tangga. Walaupun saat ini banyak juga orang yang mulai back to home demi anak-anaknya, namun, tidak sedikit juga yang masih menganggap remeh profesi ini. Tanggapanku ? ah, biasa saja (sekarang), dulu sempat down juga sih…
Aku sudah punya jurus jitu untuk menghadapinya.
JIka orang bertanya “ Mbak, kok nggak kerja sih, sayang, kan, nggak bisa punya penghasilan ? “
Jawabku “ Penghasilan? Nggak harus di kantor kok, dari rumah juga aku bisa punya penghasilan, bahkan sebulannya pernah hampir dua kali UMR disini !”
Pertanyaan lainnya “ Mbak, kan, nggak bisa aplikasiin ilmunya ?”
Jawabku lagi “ Apa semua orang kerja kantor sudah bisa dipastikan aplikasiin ilmunya ? Banyak kok yang kerjanya nggak sesuai dengan ilmu yang diambil semasa kuliah. Misal, saat kuliah jurusan pertanian, peternakan, eh, tahu-tahu dia kerja di bank, jadi teller, customer service, atau malah dibagian IT. Atau, dulu kuliah ambil jurusan Informasi Teknologi, Tahu-tahu kerjanya jadi staf administrasi atau teller, yang nggak nyambung-nyambung banget dengan ilmunya dulu !”
Pertanyaan lanjutannya “ Terus, motivasi mbak apa ? Karena anak ?”
Aku punya jawaban lagi “ anak ? ya iyalah, pastinya. Aku fikir, cari uang itu mudah, bisa kapan saja. Sedangkan masa usia anak-anak hanya sekali, jadi, berusaha manfaatin benar deh peluang yang hanya sebentar itu. Tapi, itu bukan yang utama kok…!”
Sebagian mereka pasti bertanya lagi “ So ?!”
Dengan mantap, aku bilang “ Yang utama adalah ridho suami. Dengan negosiasi alot sekalipun, argumentasi yang indah, bahkan masuk akal, jika ridho suami masih juga belum bisa didapat, lalu mau bagaimana lagi ? Bukan takut sama suami, tapi, takut sama Allah kalau aku benar-benar melaksanakan sesuatu yang suami tidak ridho, walau, mungkin, banyak kebaikan yang aku dapat (sementara) berupa gaji, prestasi, penghargaan, dll. Aku selalu ingat, kalau urusan ridha suami itu sudah dalam taraf tinggi, harus ditaati jika tidak ingin Allah marah. Toh, pelarangan bekerja kantor juga masuk akal, untuk kebaikanku sendiri, meski aku harus banyak bersabar…”
Si penanya terdiam. Mati kutu. Dan aku hanya bisa tersenyum, menikmati keberhasilanku, haha….!
Kesimpulannya, selain jangan menganggap enteng perintah suami, juga, jangan anggap remeh orang-orang yang memilih profesi sebagai ibu rumah tangga. Karena, dengan profesi tersebut, belum tentu para ibu rumah tangga lebih rendah dari wanita pekerja. Banyak juga mereka (ibu rumah tangga) yang cerdas, up to date dengan informasi terkini, melek teknologi, pintar agama, bermanfaat buat sesame, dll.
Ingatlah, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, dan Allah hanya melihat ketakwaanmu, bukan penghasilanmu. Ingat ya !
***************************************************************************
Curhat malam-malam ditemani keringat karena cuaca panas boo !
Langganan:
Postingan (Atom)







