SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, UNTAIAN SEDERHANA NAMUN SARAT MAKNA

Rabu, 17 Oktober 2012

Lauk Bebek VS Mulut Bebek

“ Wah, mba Sarah makannya sambil jalan-jalan ya ?” sapa seorang tetangga pada ibu yang tengah menyuapi anaknya di sore yang begitu cerah.

“ Iya nih, maunya jalan-jalan aja, sampai capek saya…” Ibu itu sedikit mengeluh, sambil memanggil anaknya untuk disuapkannya nasi dengan lauk yang lumayan enak.

Aku yang kebetulan sedang berada di sana sebelum ibu yang nyuapin anak itu datang ikut tersenyum.

“ Hm, mba Sarah kayanya senang makan bebek ya?” kali kedua ibu itu memerhatikan lauk yang berada di dalam mangkuk yang dibawa Ibu yang mengikuti anaknya untuk makan.

“ Iya, ini senangnya makan bebek…” katanya tertahan, merendah, mengulurkan senyum yang setengah dipaksa. Hm, lauk bebek, tepatnya mungkin kepala bebek beserta lehernya yang panjang.

“ Kalau beli bebek di sana loh bu, murah…bla..bla, bla” pembicaraan itu terus mengalir, hanya dari sebuah kata ‘bebek’. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Mungkin bukan seperti senyuman sapaan ataupun senyuman permakluman, juga bukan seyuman penghinaan. Lebih tepatnya senyuman aneh ketika mendengar jawaban seorang ibu yang terlalu hiperbola menurutku. Bagaimana tidak, aku cukup tahu tentang kondisi Ibu tersebut, tentang seberapa seringnya ia mengonsumsi makanan yang terbilang mewah tersebut, bahkan jumlah uang belanjanya setiap hari, bisa dibilang aku cukup mengetahuinya.

Mungkin ada yang berfikir, aku kurang kerjaan, atau timbul pertanyaan, apakah aku satpam atau mandornya ya, kok sampai tahu sejauh itu tentang kehidupan si Ibu bahkan tahu sedetail mungkin tentang keluarganya ? Sungguh, bukan seperti itu. Aku tidak ingin bahkan berniat mencari tahu informasi secuil apapun tentang diri dan keluarganya. Justru aku tahu tentang kehidupannya melalui cerita-ceritanya yang mengalir bak air bah yang begitu besar. Dari kejadian demi kejadian, aku mampu mengenal karakternya lewat cerita yang sering dia utarakan, walau terkadang hanya cerita ringan.

Ada dua hal yang aku tangkap dalam komunikasi yang dilakukan antara dua tetanggaku,.

Yang pertama, yaitu, kalimat yang terlalu hiperbola dan yang kedua adalah, penghargaan terhadap diri sendiri yang begitu besar. Kalimat yang terlalu hiperbola jelas sangat mengganggu telingaku, karena aku memahami kondisi si Ibu, tentang dan bagaimana ia menegelola keuangan rumah tangga yang bisa dibilang masih di bawah rata-rata. Seakan-akan, kalimat yang dikatakannya tentang makanan apa yang paling sering ia konsumsi, ia menjustifikasi, bahwa, bebek adalah konsumsi favorit keluarganya, minimal seminggu sekali, ia dan keluarga mengonsumsi hewan yang kabarnya cukup menjanjikan untuk lahan bisnis itu. Hiperbola dalam arti bahasa berarti sesuatu kalimat atau perumpamaan yang terlalu berlebihan. Menurut kacamataku, apa yang dikatakan Ibu itu sangatlah berlebihan. Menyebutkan suatu hal yang tidak bisa ia lakukan, tapi seolah-olah menjadi suatu kebiasaan. Dalam hal ini, masalah lauk bebek yang bukan merupakan barang mewah untuk konsumsi keluarganya.

Hal kedua adalah penghargaan terhadap dirinya yang begitu besar. Sebenarnya, itu adalah hal positif yang bisa menumbuhkan percaya diri seseorang karena merasa bahwa dirinya mampu melakukan itu, dalam permasalahan ini adalah, mampu membeli lauk bebek. Kalaupun sekali-kali suaminya sanggup membelikan lauk bebek yang hanya kepalanya saja, namun, bukan berarti penghargaan itu harus terus dilakukan untuk menunjukan betapa mampunya ia membeli bebek. Karena hal tersebutlah, hatiku menjadi gerah, ingin memanfaatkan moment untuk mempertanyakan sejauh mana sih kemampuan ia dan suaminya membeli bebek. Tapi, aku urung. Untuk apa, toh itu hanya akan menjadi masalah. Dan aku sendiri pun tidak tahu atas tujuan apa ibu tetanggaku menanyakan hal remeh seperti itu. Entah untuk berbasa-basi atau memang hanya sekedar nada sindiran karena tidak sekali dua kali tetangga yang memakan lauk bebek tersebut meninggikan kalimat-kalimatnya dengan presentasi yang begitu memikat.

Dari hal tersebut, aku berkaca pada diriku sendiri. Pernahkah aku melakukan sesuatu yang mungkin aku merasa itu bukanlah suatu kesalahan. Namun, belum tentu dalam pandangan oranglain itu adalah suatu hal yang biasa saja. Bisa saja, oranglain merasa eneg atau sebal melihat pembicaraan dan sikap kita berlebih-lebihan, apalagi bila mereka tahu tentang bagaimana keseharian kita.

“ Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, karena ia akan berteman dengan syetan di neraka.”

Dengan kejadian ini aku merasa harus lebih introspeksi diri untuk selalu menjaga kondisi hatiku agar tidak menimbulkan konotasi buruk bagi orang lain yang kerap bersinggungan dengan kehidupan sehari-hariku.

Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Yang copas tulisan di blog saya, mohon sertakan link ya....thx...