SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, UNTAIAN SEDERHANA NAMUN SARAT MAKNA

Sabtu, 18 Juni 2011

Seandainya ...



Seandainya, ah, bolehkah saya berandai-andai ? bukankah andai itu sebagai wujud ketidaksyukuran saya atas nikmat yang Allah berikan buat saya ? Namun, sungguh, bahwa per-andaian saya ini, bukanlah suatu bentuk kufur alias kurang bersyukurnya saya pada karunia indah yang Allah berikan buat saya. Andai disini hanyalah sebuah kamuflase, agar saya sedikit lebih tenang dan merelaksasikan fikiran saya agar kembali positif.


Bisakah saya memulainya ? Ya, andai saja saya bisa menyampaikan segala keluh kesah hati ini dengan runut, jelas dan tepat sasaran, baik melalui tulisan, komunikasi verbal ataupun melalui komunikasi gesture tubuh saya. Saya mungkin akan segera bisa mengatasi segala jenuh, duka dan kesempitan hati. Namun, bukankah penyampaian itu seperti tak berujung manakala keluh kesah dan harapan itu tak ada satu pun insan yang mau mendengarkan dengan hati, menyampaikan petuah dengan bijak. Saya merasa terjebak pada lingkaran setan, yang justru mampu melumpuhkan segala potensi yang saya miliki. Ketika saya memulai menulis sebagai terapi hati, saya berandai-andai agar tulisan itu dapat dibaca dengan cermat, diperhatikan dengan teliti dan syukur-syukur bisa segera diamalkan. Bahkan, ketika komunikasi verbal menjadi salah satu titik akhir untuk membuka percakapan, apakah saya salah bila memiliki keinginan untuk benar-benar didengarkan, dihujani dengan empati, simpati dan segala tetek bengeknya yang berurusan dengan hati. Seandainya saya bisa menyampaikan segala unek-unek saya dengan bahasa yang mudah dipahaminya, saya mungkin tidak akan sering merasa terkucil dari semua dunia, kecuali dunia rumah tangga. Ya, jujur saja, saya kerap kali merasa terkucil, terpenjara dalam ruang gelap, karena saya terkondisikan untuk menuju keruang tersebut. Bagaimana tidak, begitu banyak hal yang membuat saya merasa stuck, tidak mampu melesat jauh dari berbagai sisi. 

Dulu, sebelum menikah, saya gemar sekali menulis, membaca, karena memang kondisi keluarga saya tidak memungkinkan saya untuk berkomunikasi secara verbal. Tepatnya, kedua orangtua saya termasuk tipikal orangtua yang otoriter, terima beres, maunya melihat anak-anaknya yang baik-baik saja. Saya kecil sering kali merasa jemu, bosan, lelah pada semua aktifitas didalam rumah. Saya pun memulai dunia saya secara aktif diruang 3 x 3 meter. Itulah kamar tidur saya, kebanggaan saya, dan seabreg aktifitas ngamar saya geluti, dan saya merasa nyaman didalamnya. Sepulang sekolah, kamar adalah tujuan saya, dari mulai makan, minum, membaca, menulis, menjamu teman pun, itu saya lakukan dikamar. Mungkin banyak orang mengira bahwa saya adalah gadis kuper, penyendiri. Padahal tidak, diluar sana, saya adalah gadis supel yang selalu ceria. Namun, dirumah, saya adalah gadis kamar, yang selalu merasa nyaman dan bebas ditempat persemedian saya. Tangis, tawa, sedih, bahagia, jenuh, semua tertulis dalam kenangan dikamar itu, semua tercatat dalam memory indah yang tidak bisa dilupakan. Back to bed room, mungkin itu istilah yang tepat untuk menggambarkan kebahagiaan saya ketika merasa lelah, jenuh, sedih, bahagia. Menilik masa lalu memang membuat saya bertanya, kenapa harus back to bed room, bukan back to home, parents sebagai tempat berbagi selain Allah. Kamar adalah tempat terindah, manakala banyak masalah hidup yang menimpa saya. Kalau sudah dikamar, saya bisa menangis sehebat-hebatnya, tertawa ringan mengingat banyak kejadian diluar, menulis apapun yang terjadi seharian, juga membaca apapun buku yang saya ingin baca. Setelah beraktifitas seperti itu, segala beban terasa lenyap, himpitan sebesar gunung pun terasa lebih ringan. Karena kamar adalah ruang privacy saya. Kamar lah menjadi saksi bisu perjalanan kehidupan saya. Dan saat ini saya kangen dengan kenangan manis itu. Seandainya saya memiliki ruang lagi seperti itu, mungkin saya bisa merasakan bahagia yang tidak terkira. Ruang untuk sekedar ber- me time. Merelaksasikan fikiran, tubuh dan mempositifkan jiwa. Ketika tidak ada lagi yang mau mendengar cerita saya, ketika tak ada lagi yang mau membaca tulisan saya, paling tidak, kamar lah tempat persembunyian saya yang nyaman. Tidak perlu besar. Namun, cukup nyaman dengan fasilitas keperluan sendiri, tempat tidur kecil, agar saya bisa menikmati me time dengan sebenarnya. Tanpa gangguan suami, anak bahkan sekedar nyamuk pun tak boleh mengganggu. Seandainya itu benar-benar jadi nyata. Biarlah saya yang tidak begitu pintar mengekspresikan diri, menyampaikan unek-unek dengan komunikasi verbal, tapi, saya tetap bisa berekspresi lewat tulisan, agar saya tetap bisa menulis, mahir merangkai kata, dan indah dalam menyusun kalimat. Saat ini, saya merasa mandeg dalam banyak hal. Ya berbicara, menulis, bahkan membaca pun tidak bisa seefektif sebelumnya. Entah, apakah itu karena terbatasnya ruang untuk berekspresi ataukah karena kondisi orang-orang terdekat yang begitu mempengaruhi. Seandainya belahan jiwa saya mau dengan sabar mendengar unek-unek saya, mungkin saya akan banyak belajar berbicara runut, jelas dan logis. Dan seandainya pangeran impian itu memahami dengan jelas tulisan-tulisan saya, saya akan semakin giat menulis, belajar mengungkapkan rasa hati dengan susunan kalimat yang indah. Dan proses belajar itu semua tidak akan berhenti, manakala seorang kekasih itu mampu memenuhi salah satunya atau bahkan keduanya. Bukan justru malah mematikan segala sendinya. Saya tidak menginginkan terlalu banyak hal untuk diandaikan. Ujung harapan yang begitu besar hanyalah dua sisi komunikasi itu, yang akan terus bisa meleburkan segala potensi saya menjadi lebih baik, lebih membumi, dan lebih mengena. Seandainya, oh seandainya. Sekarang saya fikir tidak perlu ada lagi kalimat itu. Saya lebih tenang karena teman menumpahkan isi hati saya telah hadir dengan begitu cepatnya, Dia adalah Allah SWT, yang tidak pernah lelah mendengar keluh kesahku, yang tidak pernah jemu mendengar permintaan, harapan-harapanku. Bahkan setelah mengadu dengan penuh harap, saya justru bersyukur, dengan kondisi seperti ini, justru mampu melecutkan kembali potensi saya yang telah lama terkubur. Alhamdulillah, thanks for God, seketikah hati saya adem, dingin ,tenang, Dia lah sebaik-baik penolong. Seandainya, Dia selalu ada didekatku, tak kan pernah lelah hati ini menghadapi berbagai persoalan hidup. Namun untuk yang terakhir itu, saya tidak perlu ber andai-andai, karena sesungguhnya Dia adalah dekat.
Asysyifa Azzam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang copas tulisan di blog saya, mohon sertakan link ya....thx...