SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA, UNTAIAN SEDERHANA NAMUN SARAT MAKNA

Sabtu, 18 Juni 2011

Nenangga



Alhamdulillah, kemarin saya sudah mulai ‘nenangga’ lagi. Istilah yang berarti, bermain ke tetangga. Hmm, kalau difikir-fikir, apa yang salah dengan nenangga ya ? pastinya tidak ada yang salah, yang salah adalah bila nenangganya itu jadi berujung petaka. Petaka untuk diri sendiri, masyarakat. Petaka yang bisa diwujudkan melalui keringnya hati, rapuhnya jiwa dan jauh dari Allah. Aih…segitunyakah ?

Saya termasuk orang yang kerap kali tergoda untuk terjerumus dalam petaka itu. Bagaimana tidak, ketika hati sudah mulai cair, nikmat akan kedekatan dengan Allah, lalu ada saja yang bertanya “kok lama tidak keluar mba? Semedi ya? Sibuk ya?” pertanyaan sepele, tapi dalam maknanya buat saya. Kalau dalam fikiran saya, orang tersebut bilang semedi, berarti saya memang tidak mau bahkan sengaja menjauhkan diri dari kehidupan bermasyarakat. Kalau yang sibuk, menjelaskan secara tersirat, bahwa saya sok sibuk, hehe… ya, saya bisa berfikir bahwa saya sok sibuk karena, sebelum-sebelumnya, seberat apapun pekerjaan saya dirumah, ada waktu-waktu untuk bermain keluar, sekedar merefreshingkan fikiran. Nah, kalau sudah tidak keluar untuk ngobrol-ngobrol gitu barulah istilah semedi dan sibuk terlontar, hehe…. Sepertinya sudah hafal sekali ya dengan karakter orang-orang disekitar saya ya ?!
Saya banyak mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang telah lewat akan aktifitas nenangga ini. Biasanya, ketika sudah begitu saya akan merasa puas karena pada dasarnya saya senang bersosialisasi, mendengarkan, berbagi tentang info dan pengalaman hidup yang lain. Namun, yang tidak enak, justru ketika yang didengarkan adalah berupa gunjingan, umpatan antara si A, si B, si C, yang membuat telinga saya panas, hati saya berdegup, fikiran saya melayang-layang, seakan memang saya perlu mencari tahu kelanjutan jalan ceritanya, persis sinetron yang samapai 6 episode itu loh ! Akhirnya saya terjebak pada ghibah, namimah tadi. Duh…sedih deh kalau sudah begitu, begitu cepatnya hati saya kering, fikiran saya mampet, karena ternodai oleh banyak informasi yang negatif. Saya sering kali berfikir, bahwa lebih baik saya dirumah, banyak hal yang bisa saya kerjakan. Mulai dari pekerjaan rumah tangga, menjalani hobby membaca saya, dan berlatih menulis lagi. Saya mulai untuk hidup yang lebih produktif dengan banyak belajar untuk meningkatkan kualitas diri. Saya menyadari bahwa diri ini hampir menuju ambang batas kejenuhan, yang bila dibiarkan justru akan merusak segala sendi. Berupa kepercayaan diri yang semakin memudar, merasa tidak berharga, tidak bisa manfaat untuk orang banyak, dan lain-lain. Itulah efek ketika hati saya kering, iman yang tidak terjaga dan fikiran berkutat pada informasi-informasi negatif. Jadi, saya lebih suka memutuskan untuk back to home, dengan yang sebenar-benarnya. Menjadikan aktifitas dirumah itu menyenangkan, produktif, dan menghasilkan.
Jebakan yang sering timbul dan seringkali saya tergoda, ya biasanya karena sindiran, pertanyaan, dan sejenisnya. Saya berusaha melenyapkan kekakuan dengan sedikit melebur bersama pertanyaan-pertanyaan itu, ya dengan nenangga lagi. Ada ucapan “kok tidak bosan ya mba dirumah terus ? memang ngapain sih ???” wah,kalau ini dijawab, bisa panjang ceritanya. Karena, banyak sekali aktifitas dirumah yang bisa saya kerjakan diluar pekerjaan rumah dan mendidik anak. Saya butuh waktu untuk diri saya sendiri. Karena saya merasa waktu untuk diri saya sendiri banyak tersita oleh anak yang terbiasa meminta perhatian lebih ketika dirumah. Jadi, ketika anak main, lebih baik saya bekerja untuk diri saya, saya bisa banyak belajar banyak hal, paling tidak, saya menjaga hati dan jiwa saya agar tidak terlalu terlena dengan yang namanya nenangga. Dan itu yang paling penting. Saya sering membayangkan, betapa nikmatnya diri ini berekspresi, manakala, hati dan fikiran terjaga dengan baik. Ide terasa terus berkembang, karena merasa diri positif, image baik pun ada. Saya pun bukan orang yang mudah untuk segera kembali menjadi diri sendiri, ketika sudah terbentur oleh jiwa-jiwa yang heterogen. Saya menyadari kekurangan ini. Dan anehnya, kekurangan seperti ini terjadi ketika iman saya sedang lemah. Begitu mudahnya saya bersikap seperti oranglain, walau biasanya setelah itu, saya menyesal. Ya, saat-saat seperti inilah yang saya rindukan. Bisa melepas penat, bisa melegakan jiwa, menyalurkan isi fikiran dengan positif. Satu hal lagi yang sering terjadi ketika saya rajin nenangga, saya seakan tidak mampu mempengaruhi mereka terhadap perbuatan yang kurang baik. Berbeda ketika saya jarang bertemu mereka, paling tidak, saya lebih mudah menyampaikan hal-hal yang memang kurang baik, lebih didengar omongannya, lebih berpengaruh nasihat-nasihatnya. Dibanding ketika saya kerap bersama mereka dan saya terwarnai oleh kebiasaan mereka, justru akan menenggelamkan diri saya sendiri, sama seperti mereka. Benar peribahasa, bertemanlah dengan penjual minyak wangi, maka akan terkena cipratan wanginya, berteman dengan penjual minyak tanah pun akan kecipratan bau minyak tanah. Akhirnya, segala hal yang harusnya bisa saya sampaikan, tidak mampu tersampaikan dengan baik. Karena banyak rasa ‘tidak enak’ yang sering kali terlintas ketika mau menyampaikan sesuatu. Saya ingat pernah membaca majalah yang temanya “berbaur tapi jangan ikut lebur” yang maknanya, yuk kita mewarnai masyarakat, tapi jangan ikut terwarna oleh pola mereka. Dan setelah dipraktekkan, hanya jiwa yang kuat saja yang mampu bertahan. Karena deburan ombak begitu kencangnya, sedangkan saya sendiri yang mewarnai. Jadi, saya kira, mewarnai itu jangan berkelanjutan, sesekali saja, tarik ulur, karena, kalau berkelanjutan ditakutkan justru kita yang patah, terkikis oleh kebiasaan yang ada. Kecuali, bagi orang-orang yang memang saat itu sedang memilliki keimanan yang bagus, jiwa yang kuat. Iman yang bagus, tapi kalau jiwanya belum begitu kuat, akan mudah sekalli goyah. Ya, mungkin saat ini, itu saja yang bisa saya sampaikan, paling tidak saya simpan pelajaran berharga ini untuk bekal saya ketika lupa. Hehehe.,.. walaupun ketika nenangga kemarin diselingi oleh hadiah hadir, tetap saja harus ingat semboyan “jangan terlena!” hehe..
Wassalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yang copas tulisan di blog saya, mohon sertakan link ya....thx...